Agustinus Ampur Setelah Pensiun Tekuni Profesi Petani

 Ibu Editha Jelus (Nyonya Agus Ampur) sedang memetik Cengkeh di kebun milik mereka (Dok: pribadi A.A)

RUTENG, RANAKANEWS.com – Pensiun sering dipandang sebagai masa jeda, saat seseorang berhenti dari rutinitas panjang dan memilih beristirahat. Namun bagi Agustinus Ampur, pensiun justru menjadi awal perjalanan baru. Ia kembali ke tanah kelahiran, menekuni profesi petani, dan dari sana ia menemukan makna yang lebih dalam tentang kerja, tradisi, dan pengabdian.

Selama puluhan tahun, Agustinus Ampur mengabdi sebagai aparatur sipil negara. Rekan-rekannya mengenang dirinya sebagai sosok sederhana, jujur, dan penuh dedikasi. Ia terbiasa bekerja dengan disiplin, menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Ketika masa pensiun tiba, belasan tahun yang lalu, banyak yang menduga ia akan menikmati hari-hari dengan tenang bersama keluarga. Namun pilihan Agustinus berbeda. Ia kembali ke sawah dan kebun, menekuni profesi petani yang sejak lama menjadi bagian dari identitas Manggarai.

Setiap pagi, Agustinus bangun lebih awal. Dengan cangkul di tangan, ia menapaki tanah yang pernah digarap ayah dan leluhurnya. Padi, kopi, cengkeh dan sayuran lokal menjadi komoditas yang ia tanam.

“Pensiun bukan berarti berhenti produktif. Dengan bertani, saya bisa tetap bekerja sekaligus menjaga tradisi,” ujarnya sambil menatap hamparan sawah yang menghijau, kepada media ini, Minggu, 23/11/2025.

Baginya, bertani bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai cara menjaga tradisi dan menghidupkan kembali semangat generasi muda agar tidak meninggalkan tanah. “Kalau kita tinggalkan sawah, siapa lagi yang akan menjaga sumber pangan kita?,” tambahnya.

Kehadiran Agustinus di ladang tidak hanya menjadi rutinitas pribadi, tetapi juga inspirasi bagi warga sekitar.

Primus Lahat, tetangga dekatnya, mengatakan: “Kami senang melihat Pak Agustinus tetap aktif. Ia memberi contoh bahwa pensiun bukan berarti berhenti bekerja. Anak-anak kami jadi lebih semangat ikut ke kebun,” katanya.

Wensis Jemadu, seorang pemuda desa, menambahkan: “Awalnya saya ragu bertani, tapi melihat Pak Agustinus turun langsung, saya jadi percaya bahwa bertani bisa memberi masa depan. Ia membuktikan bahwa tanah Manggarai punya nilai besar,” komentarnya.

Kasmir Padur, Keta RT setempat juga memberi apresiasi: “Pak Agustinus bukan hanya menanam padi, ia menanam harapan. Kehadirannya membuat warga lebih kompak menjaga sawah dan kebun,” pungkasnya.

Di balik rutinitas sederhana itu, ada filosofi yang lebih dalam. Bagi Agustinus, tanah bukan sekadar lahan, melainkan ibu yang memberi kehidupan. Setiap benih yang ditanam adalah doa, setiap tetes keringat adalah persembahan, dan setiap panen adalah jawaban atas kesetiaan manusia menjaga alam.

Ia percaya bahwa manusia dan tanah memiliki hubungan timbal balik: tanah memberi kehidupan, manusia memberi perawatan. Jika salah satu mengabaikan, keseimbangan akan hilang. “Tanah ini adalah warisan leluhur. Kalau kita rawat, ia akan terus hidup dan memberi makan anak cucu kita,” katanya.

Dalam pandangan Agustinus, bertani adalah bentuk meditasi. Di sawah, ia belajar kesabaran, menerima siklus alam, dan memahami bahwa hasil tidak datang seketika. Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup, seperti bertani, adalah tentang menanam dengan tekun, merawat dengan sabar, dan menuai dengan syukur.

Agustinus Ampur membuktikan bahwa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Dari balik ladang dan kebun, ia menanam harapan baru: bahwa Manggarai akan tetap hidup dari tanahnya sendiri. Pilihannya menekuni profesi petani adalah sebuah pesan kuat—bahwa kerja sejati bukan hanya di kantor, tetapi juga di tanah yang memberi kehidupan.

Lebih dari itu, ia mengingatkan kita bahwa tanah adalah kitab terbuka, tempat manusia belajar tentang kesetiaan, kesabaran, dan syukur. Dari sana, Agustinus menanam bukan hanya padi, tetapi juga filosofi hidup yang akan terus tumbuh bersama generasi berikutnya. (WG)

 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version