Oleh: Antonius Berto Murin Haba Etoehaq
Di tengah berjalannya globalisasi, modernisasi, dan perubahan sosial yang cepat, banyak komunitas lokal menghadapi kesulitan besar dalam menjaga identitas budaya mereka. Di Indonesia, isu ini sering terjadi dalam hubungan antara agama dan budaya. Seringkali agama dianggap sebagai hal yang mengubah atau menghilangkan identitas lokal. Namun, apakah agama benar-benar harus bersikap bertentangan dengan budaya? Pengalaman masyarakat Simalungun di Sumatera Utara menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya jauh lebih rumit dan kompleks. Untuk memahami dinamika tersebut, pemikiran Stephen B. Bevans melalui Model Antropologis dalam teologi kontekstual memberikan perspektif yang sangat relevan.
Teologi Kontekstual Stephen B. Bevans dan Model Antropologis
Dalam tulisan-tulisan tentang teologi kontekstualnya, Bevans menekankan bahwa teologi tidak pernah muncul di tempat yang kosong. Teologi selalu merupakan hasil dari pemikiran iman yang terjadi dalam suatu situasi tertentu. Oleh karena itu, pengalaman manusia, budaya, sejarah, dan realitas sosial bukan hanya bagian belakang dalam teologi, tetapi merupakan komponen penting dalam sumber teologi (locus theologicus). Melalui Model Antropologis, Bevans menganggap budaya manusia sebagai titik awal utama dalam memahami karya Allah di dunia.
Berbeda dengan model-model teologi yang lebih fokus pada penyampaian ajaran dari pihak atas ke bawah, Model Antropologis berdasarkan keyakinan bahwa Allah sudah ada sejak dahulu dan bekerja dalam budaya manusia. Budaya bukanlah sesuatu yang perlu dicurigai atau dikendalikan oleh agama, melainkan tempat manusia merasakan kehadiran Allah. Dalam pendapat ini, tugas agama bukanlah menghilangkan identitas budaya lokal, melainkan mencari, mengakui, dan mengembangkan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan yang sudah ada dalam budaya tersebut.
Perspektif ini adalah kunci utama untuk memahami pengalaman hidup masyarakat Simalungun. Sebelum agama-agama besar datang, masyarakat Simalungun percaya pada sistem kepercayaan tradisional yang disebut Habonaron do Bona. Kepercayaan itu bukan hanya memandu hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga membentuk aturan etika dalam masyarakat, hubungan antar keluarga, serta cara masyarakat memandang kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka Model Antropologis Bevans, warisan budaya dan keyakinan lokal seperti ini tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang benar-benar terpisah dari karya Allah. Di dalamnya juga terdapat pengalaman manusia, yang menjadi tempat Allah menunjukkan kehadiran-Nya.
Budaya sebagai Ruang Hadirnya Allah dalam Perspektif Antropologis
Ketika agama Islam dan Kristen masuk ke daerah Simalungun, masyarakat mengalami perubahan besar dalam kehidupan mereka. Agama baru membawa keyakinan, nilai, dan cara beribadah yang berbeda. Namun, perubahan tersebut juga memunculkan persoalan identitas. Dalam beberapa masa dalam sejarah, sebagian orang yang mengikuti agama Islam lebih suka menganggap diri mereka sebagai orang Melayu dan mengabaikan tanda-tanda kebudayaan asli seperti penggunaan nama keluarga. Di sisi lain, perkembangan agama Kristen melalui misi juga pernah menyebabkan adanya kecenderungan untuk menganggap identitas Simalungun sama dengan Batak Toba. Akibatnya, beberapa budaya khas Simalungun mulai tidak terlihat lagi dalam kehidupan masyarakat umum.
Jika dilihat dari perspektif teologi yang kurang memperhatikan latar belakang budaya, fenomena ini bisa dianggap sebagai hasil alami dari proses penyebaran agama. Namun, Model Antropologis Bevans menanyakan hal yang lebih mendasar, yaitu mengapa seseorang menerima agama harus menghilangkan identitas budayanya. Jika Allah berada di tengah manusia dan berperan dalam budaya mereka, maka budaya lokal tidak boleh dianggap sebagai halangan dalam menjalani kehidupan beriman.
Di sinilah relevansi utama pemikiran Bevans. Ia mengeluh tentang cara pandang yang menilai satu budaya lebih baik daripada budaya lainnya. Menurutnya, tidak ada budaya yang berhak eksklusif menjadi tempat utama untuk menyampaikan iman. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk memahami dan merasakan kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, Injil tidak boleh dipaksakan dalam bentuk budaya tertentu yang justru merusak identitas lokal.
Habonaron do Bona: Fondasi Budaya dan Spiritualitas Simalungun
Kesadaran tersebut terlihat dari bangkitnya identitas Simalungun melalui semangat yang dimiliki oleh orang-orang Simalungun. Gerakan ini muncul karena penggemar ingin kembali menghargai dan menghidupkan budaya mereka yang telah dipercayakan. Dalam pandangan Bevans, fenomena ini bukan hanya sekadar gerakan melestarikan budaya, tetapi merupakan bagian dari upaya mencari kembali tempat Tuhan bekerja dalam pengalaman sejarah dan budaya masyarakat Simalungun.
Contoh yang paling jelas dari proses ini adalah pembentukan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Kehadiran GKPS menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu harus saling bertolak belakang. Gereja bisa menjadi tempat bertukar pikiran antara iman Kristen dan budaya Simalungun. Menggunakan bahasa Simalungun dalam ibadah, menghormati adat istiadat, serta upaya mempertahankan nilai-nilai budaya lokal adalah contoh nyata dari teologi kontekstual, seperti yang dikemukakan oleh Bevans.
Dalam Model Antropologis, GKPS bisa diartikan sebagai contoh bagaimana komunitas yang beriman mencoba menemukan wajah Allah melalui budaya yang mereka warisi. Gereja tidak datang sebagai lembaga yang mengenalkan budaya asing untuk menggantikan budaya lokal, melainkan sebagai komunitas yang mengakui bahwa Tuhan sudah ada sejak dahulu dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Simalungun.
Lebih lanjut, pengalaman dari Simalungun juga menunjukkan bahwa identitas budaya yang kokoh justru bisa menjadi dasar untuk munculnya toleransi. Hingga kini, masyarakat Simalungun masih dikenal bisa mempertahankan hubungan keluarga meskipun dalam satu keluarga terdapat perbedaan agama. Hak dan kewajiban menurut adat tetap dilaksanakan tanpa memperhatikan perbedaan keyakinan. Sikap ini menunjukkan bahwa identitas budaya sering kali menjadi poin kesamaan yang mempererat persaudaraan meskipun ada perbedaan agama.
Perjumpaan Agama dengan Budaya Simalungun
Fenomena itu kembali menguatkan pendapat Bevans bahwa pengalaman manusia dan budaya memiliki nilai teologis yang sangat penting. Hidup bersama yang damai, saling menghormati satu sama lain, serta gotong royong dalam masyarakat bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga tempat untuk melihat tanda-tanda kekuatan Tuhan. Dengan kata lain, budaya lokal bukan hanya hal yang harus disampaikan, tetapi juga sesuatu yang memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman iman yang lebih dalam dan luas.
Akhirnya, pengalaman orang-orang Simalungun memberikan pelajaran bahwa agama dan budaya bisa hidup berdampingan tanpa harus saling bertentangan. Justru melalui perspektif Model Antropologis Stephen B. Bevans, kita diajak untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam sejarah, budaya, dan pengalaman nyata yang dialami oleh manusia. Oleh karena itu, tugas agama bukanlah untuk menghilangkan identitas lokal, melainkan membantu masyarakat menemukan makna yang lebih dalam dari budayanya dalam cahaya iman.
Di tengah arus global yang cenderung mengaburkan keunikan budaya, masyarakat Simalungun menunjukkan bahwa beragama tidak selalu berarti meninggalkan akar budaya mereka. Iman yang benar-benar kontekstual adalah iman yang berkembang dari budaya setempat, menghormati sejarah komunitas, dan mencari tanda-tanda kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti ini, pengalaman Simalungun menjadi contoh nyata serta pembuktian atas gagasan Stephen B. Bevans mengatakan bahwa budaya bukanlah ancaman bagi iman, melainkan salah satu tempat utama di mana Allah mengungkapkan diri-Nya kepada manusia.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
