Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, Paulus Jeramun. (Foto: Ist.)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Pemerintah Kabupaten Manggarai mendapat dukungan Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) untuk memperkuat pendataan dan pemetaan wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dukungan tersebut datang melalui Divisi Mitigasi dan Emergency Response APDI dengan mengerahkan dua pilot drone, yakni Lang Jiwa Noventra dan Achmad Cafin Shauma.
Keduanya tiba di Labuan Bajo pada Rabu, 19 Agustus 2026, sebelum melanjutkan perjalanan ke Ruteng untuk berkoordinasi dengan Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai.
Koordinasi dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi wilayah terdampak, menentukan prioritas pemetaan, serta mengidentifikasi kebutuhan data yang dapat mendukung penanganan bencana.
Pada tahap awal, tim melakukan pemetaan udara di Desa Ranaka, Desa Wae Mulu, dan Desa Poco, Kecamatan Wae Ri’i. Pemetaan kemudian dilanjutkan di wilayah Kecamatan Cibal pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Data visual dari udara diharapkan memberikan gambaran kondisi wilayah terdampak secara lebih cepat dan menyeluruh. Hasil pemetaan akan digunakan untuk mendukung asesmen kerusakan, identifikasi kebutuhan masyarakat, pemantauan kondisi wilayah, serta penyusunan langkah penanganan selama masa tanggap darurat.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, Paulus Jeramun, menyambut baik dukungan tersebut.
“Pemetaan udara ini sangat membantu kita untuk mendapatkan gambaran kondisi wilayah terdampak secara lebih cepat dan akurat,” ujar Paulus yang juga Koordinator Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai.
Menurut Paulus, data visual hasil pemetaan akan menjadi salah satu bahan untuk memperkuat asesmen, pemetaan kerusakan, dan pengambilan keputusan dalam penanganan tanggap darurat.
Pemkab Manggarai, kata dia, juga membuka kemungkinan memperluas pemetaan udara ke seluruh kecamatan yang terdampak gempa.
“Kalau memungkinkan, seluruh kecamatan di Kabupaten Manggarai yang terdampak gempa bumi M7,7 akan kita lakukan pemetaan udara secara bertahap. Kita ingin mendapatkan gambaran kondisi wilayah dan dampak kerusakan secara lebih menyeluruh,” katanya.
Paulus menegaskan, hasil pemetaan tidak hanya akan dijadikan dokumentasi, tetapi diharapkan menjadi salah satu rujukan bagi berbagai instansi dalam melakukan asesmen, menentukan kebutuhan, menyusun langkah penanganan, hingga mendukung proses pemulihan pascabencana.
“Data yang lebih lengkap dan akurat akan membantu kita memiliki dasar yang lebih kuat dalam mengambil keputusan dan menentukan prioritas penanganan di setiap wilayah terdampak,” tambahnya.
Pelaksanaan pemetaan akan terus dikoordinasikan dengan Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai, pemerintah kecamatan dan desa, serta instansi terkait agar hasil pemetaan dapat terintegrasi dengan data kebencanaan yang sedang dihimpun pemerintah daerah.
Kolaborasi Pemkab Manggarai dan APDI ini diharapkan memperkuat pendataan kebencanaan berbasis teknologi sekaligus mempercepat ketersediaan informasi akurat sebagai dasar penanganan masyarakat terdampak gempa.
Sumber: Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai, 22 Agustus 2026.(*/WG)
