Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Rio Khasananda saat memberikan sambutan.
KUPANG, RANAKANEWS.com – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTT menggelar Kegiatan Sosialisasi “LENTERA ”Literasi Keuangan Digital untuk Pekerja Migran Indonesia”, Acara berlangsung di aula Rumah Jabatan Walikota Kupang pada Rabu (1/10/2025).
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Rio Khasananda dalam sambutannya menegaskan bahwa sebagai otoritas di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia memiliki peran penting dalam memastikan keamanan dan kelancaran layanan keuangan bagi seluruh masyarakat, termasuk para pekerja migran.
“Karena itu kami mendorong penggunaan layanan remitansi resmi dan berizin, serta terus melakukan edukasi perlindungan konsumen agar masyarakat terhindar dari praktik penipuan digital yang semakin canggih,” tegasnya.
Selain itu, inovasi sistem pembayaran terus kami perkuat. Salah satunya melalui QRIS, dan kini diperluas dengan QRIS Cross Border. Dengan adanya QRIS Cross Border, pekerja migran dapat bertransaksi di luar negeri dengan lebih cepat dan aman dengan biaya lebih kompetitif.
Ia menambahkan, selain itu, inovasi sistem pembayaran terus kami perkuat. Salah satunya melalui QRIS, dan kini diperluas dengan QRIS Cross Border. Dengan adanya QRIS Cross Border, pekerja migran dapat bertransaksi di luar negeri dengan lebih cepat dan aman dengan biaya lebih kompetitif.
Menurut Rio Khasananda, Provinsi NTT merupakan salah satu daerah penyumbang pekerja migran terbesar di Indonesia, dengan ribuan masyarakat yang bekerja di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Brunei Darussalam, hingga Timor Leste. Nuansa NTT.
Berdasarkan data BPS tahun 2024, terdapat 1.401 pekerja migran asal NTT, meningkat 7% dibandingkan tahun 2023 yang berjumlah 1.305 orang.
“Peningkatan ini menjadi peluang sekaligus tantangan yang perlu kita hadapi bersama. Kenaikan jumlah PMI, baik dari NTT maupun secara nasional, mencerminkan besarnya potensi penerimaan devisa remitansi sekaligus peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat kita di luar negeri,”ujarnya.
Namun di sisi lain, masih terdapat berbagai tantangan, antara lain rendahnya literasi keuangan dan digital, serta masih banyaknya PMI yang menggunakan jalur remitansi ilegal yang rawan penipuan, berbiaya tinggi, dengan nilai tukar merugikan, dan tanpa perlindungan konsumen yang memadai. (*)
