Oleh: Cristoforus Payong Ati
Di tengah dunia yang semakin individualistis, masyarakat Solor masih mempertahankan sebuah tradisi yang mangajarkan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian. Tradisi Berauk menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar pilihan sosial, melainkan fondasi kehidupan bersama. Pertanyaannya, apakah nilai yang hidup dalam Berauk masih relevan bagi Gereja dan masyarakat Indonesia saat ini?
Ketika berbicara tentang teologi kontekstual, perhatian utama bukanlah bagaimana budaya menyesuaikan diri dengan Gereja, melainkan bagaimana Injil menemukan maknanya, dalam pengalaman konkret masyarakat setempat. Dalam konteks Flores Timur, salah satu tradisi yang menyimpan kekayaan makna tersebut adalah Berauk. Penelitian Marina Imelda Bunga Sogen dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa Berauk mengandung nilai gotong royong, solidaritas, religiusitas, tanggung jaawab sosial, dan persaudaraan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi ruang tempat masyarakat meneguhkan identitas kolektif mereka.
Keberadaan Berauk menarik karena lahir dari kesadaran bahwa kehidupan manusia selalu terkait dengan orang lain. Dalam praktiknya, masyarakat tidak memandang suatu peristiwa sebagai urusan pribadi semata. Baik dalam pesta adat, pembangunan rumah, maupun berbagai kebutuhan sosial lainnya, keterlibatan komunitas menjadi unsur yang sangat penting. Cara pandang semacam ini berbeda dengan budaya modern yang sering menempatkan individu sebagai pusat segala sesuatu. Dalam Berauk, kebersamaan justru menjadi sumber kekuatan.
Nilai tersebut memiliki kesamaan yang kuat dengan ajaran Kristiani. Dalam Perjanjian Baru, Gereja dipahami sebagai Tubuh Kristus. Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya saling membutuhkan (1Kor. 12:12-27). Tidak ada anggota yang dapat hidup sendiri. Gambaran ini menemukan bentuk konkret dalam tradisi Berauk. Apa yang diajarkan Kitab Suci mengenai solidaritas ternyata telah lama hidup dalam praktik budaya masyarakat Solor.
Selain itu, Berauk juga menunjukkan bahwa relasi sosial bukan sekadar hubungan fungsional, melainkan hubungan yang mengandung tanggung jawab moral. Setiap anggota komunitas memiliki kewajiban untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan. Dalam perspektif Injil, nilai ini sejalan dengan perintah kasih yang menjadi inti ajaran Yesus. Kasih dalam tradisi Kristiani tidak berhenti pada perasaan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika masyarakat Solor saling membantu melalui Berauk, mereka sesungguhnya sedang menghidupi nilai yang dekat dengan spiritualitas Kristiani.
Namun, makna Berauk tidak berhenti pada solidaritas sosial. Tradisi ini juga memperlihatkan pentingnya rekonsiliasi dan harmoni dalam kehidupan bersama. Masyarakat adat manyadari bahwa konflik tidak dapat dihindari, tetapi konflik tidak boleh dibiarkan merusak persaudaraan. Karena itu, berbagai mekanisme adat dikembangkan untuk memulihkan hubungan yang rusak. Di sinilah Berauk memiliki relevansi yang besar bagi Indonesia masa kini. Ketika polarisasi politik, konflik identitas, dan intoleransi masih sering terjadi, budaya lokal justru menawarkan pelajaran penting tentang cara membangun perdamaian.
Perspektif tersebut sejalan dengan gagasan teologi Asia yang menempatkan rekonsilisasi sebagai salah satu tugas utama Gereja. Dalam konteks masyarakat Asia yang plural dan kompleks, Gereja dipanggil menjadi pembangun dialog dan persaudaraan. Nilai ini sebenarnya telah hadir dalam Berauk jauh sebelum istilah ‘teologi rekonsiliasi” dikenal dalam dunia akademik. Tradisi lokal menunjukkan bahwa perdamaian tidak lahir dari dominasi satu kelompok atas kelompok lain, tetapi dari kesediaan untuk memulihkan hubungan yang retak.
Sayangnya, globalisasi menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Banyak generasi muda mulai mengenal budaya global lebih baik daripada tradisi mereka sendiri. Berauk perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini terus berlanjut, yang hilang bukan hanya sebuah ritual adat, tetapi juga seperangkat nilai yang selama ini menjaga kohesi sosial masyarakat. Karena itu, pelestarian Berauk tidak boleh dipahami sebagai nostalgia terhadap masa lalu. Pelestarian tersebut justru merupakan investasi sosial dan spiritual bagi masa depan.
Gereja memiliki peran penting dalam proses ini. Teologi kontekstual mengajarkan bahwa budaya bukan sekadar objek evangelisasi, melainkan mitra dialog dalam pewartaan Injil. Oleh sebab itu, Gereja di Flores Timur perlu melihat Berauk sebagai sumber inspirai pastoral.Nilai solidaritas, persaudaraan, rekonsiliasi, dan tanggung jawab sosial yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sarana efektif untuk menghadirkan Injil secara lebih dekat dengan kehidupan umat.
Tradisi Berauk menunjukkan bahwa budaya lokal bukanlah penghalang bagi iman Kristen. Sebaliknya, budaya dapat menjadi ruang tempat nilai-nilai Injil menemukan bentuk konkret dalam kehidupan masyarakat. Solidaritas, kasih, persaudaraan, rekonsiliasi yang hidup dalam Berauk memperlihatkan wajah Kristus yang mempersatukan manusia. Karena itu, Gereja, lembaga pendidikan, dan generai muda perlu bersama-sama merawat tradisi ini agar tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pembangunan masyarakat Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadaban.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
