Oleh : Fransiskus Rizal Sakunab
Ketika berbicara tentang krisis ekologi, kita tidak sedang menghadapi prediksi masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Kita tidak bisa lagi memungkiri temuan Intergovernmental Panel on Climate Change yang mencatat bahwa suhu rata-rata permukaan global saat ini telah melonjak antara 1,1°C hingga 1,2°C di atas level pra-industri (IPCC, 2021).
Angka yang terlihat kecil ini nyatanya menjadi motor penggerak bagi cuaca ekstrem yang semakin tak terprediksi di berbagai belahan dunia. Krisis ekologi, pada esensinya, bukanlah semata-mata masalah sains atau kegagalan kebijakan publik, melainkan sebuah krisis eksistensial tentang bagaimana manusia mendefinisikan keberadaannya di tengah semesta.
Di tingkat lokal, bentang alam Indonesia memberikan potret yang tidak kalah mengkhawatirkan terkait dampak nyata dari krisis ini. Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa dari tahun 2001 hingga 2024, Indonesia telah kehilangan jutaan hektar hutan primer, sebuah ekosistem krusial yang berfungsi sebagai paru-paru dunia sekaligus benteng keanekaragaman hayati.
Paralel dengan itu, data dari National Plastic Action Partnership (NPAP) mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, di mana sebagian besar berakhir di ekosistem perairan dan merusak rantai makanan laut. Deretan data ini memperlihatkan bahwa ruang hidup bersama sedang mengalami degradasi sistemis akibat aktivitas eksploitatif.
Pertanyaannya, mengapa deretan data yang begitu mengkhawatirkan tersebut sering kali gagal melahirkan perubahan radikal dalam perilaku kolektif kita? Jawabannya berakar pada arogansi paradigma antroposentrisme yang telah mencengkeram peradaban modern selama berabad-abad.
Cara pandang ini memosisikan manusia sebagai satu-satunya subjek atau “pusat” yang memiliki nilai intrinsik, sementara alam raya direduksi sekadar sebagai objek, sebuah gudang logistik raksasa yang siap dikuras demi pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Ketika alam hanya dilihat dari fungsi utilitasnya pohon dinilai dari meter kubik kayunya dan gunung dari kandungan mineralnya maka hancurlah rasa hormat kita terhadap entitas non-manusia.
Paradigma eksploitatif tersebut mengabaikan sebuah fakta fundamental bahwa eksistensi manusia di dunia pada dasarnya adalah sebuah bentuk “ada-bersama” (being-with). Manusia tidak hidup di ruang hampa, dan tidak pula berdiri terisolasi di luar ekosistem.
Kita tidak sekadar hidup di atas bumi, melainkan hidup bersama bumi; napas kita berkelindung dengan fotosintesis hutan, dan tubuh kita dialiri oleh air yang melewati siklus hidrologi yang sama selama jutaan tahun. Memahami ekologi dari kacamata “ada-bersama” berarti menggeser pola hubungan kita dari dominasi sepihak menuju ko-eksistensi yang setara dan saling menopang.
Kita sering kali keliru dengan berpikir bahwa krisis lingkungan dapat diselesaikan secara tuntas hanya melalui pendekatan teknokratis dan kompromi ekonomi, seperti skema perdagangan karbon atau sekadar transisi ke kendaraan listrik. Pendekatan-pendekatan tersebut memang krusial, namun berisiko menjadi sekadar kosmetik atau tindakan greenwashing jika tidak diiringi dengan transformasi kesadaran yang mendalam.
Selama prinsip dasar hubungan kita dengan alam masih didasarkan pada logika kepemilikan dan penguasaan, maka solusi teknologi hanya akan menunda kehancuran, bukan menghentikannya. Yang kita butuhkan adalah perubahan pada bentuk dasar (forma) bagaimana kita mengorganisasi kehidupan sosial dan ekonomi agar selaras dengan daya dukung bumi. Kerusakan ekologis yang kita saksikan hari ini adalah cerminan langsung dari keterasingan manusia dari lingkungan yang menopangnya.
Pada akhirnya, agenda memulihkan Bumi harus berakar pada pemulihan cara pandang kita sendiri. Kita harus berani meruntuhkan ego spesies kita dan mulai menyadari posisi manusia sebagai bagian dari jaring kehidupan yang rapuh, setara, dan saling bergantung.
Keselamatan ekologi di masa depan tidak lagi bergantung pada seberapa canggih teknologi yang kita ciptakan untuk memanipulasi alam, melainkan pada sebuah kesadaran etis yang sederhana namun radikal: bahwa kita hanya bisa terus “ada” jika alam raya yang menampung kita ini juga dibiarkan tetap “ada” dan lestari.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.