Bunda Teresa dari Kalkuta, Para Medis, Relawan Covid-19

 

Oleh: Muhamad Sabri

Mahasiswa Alih Jenis Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Sepanjang tahun 2020 dunia diwarnai dengan pandemi covid-19. Virus yang mulai teridentifikasi di Cina pada ahkir 2019 ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan merenggut begitu banyak jiwa.
Penyebarannya yang begitu cepat membuat negara-negara kewalahan dalam menangani kasus ini.
Negara mengalami kendala yang sama, ketika harus membuat pilihan antara lock-down atau Physical distancing; antara kesehatan atau ekonomi.
Ketika memilih kesehatan dengan menutup semua model mobilisasi massa, sebuah negara harus mengalami resesi ekonomi yang ujung-ujungnya juga dapat mengakibatkan “masalah baru” dari kehidupan manusia.
Sebaliknya, ketika memilih ekonomi, negara-negara harus berhadapan dengan “malaikat kematian” yang menghempas ribuan nyawa.
Walau demikian, pada akhirnya semua disadarkan bahwa apa pun keputusan yang diambil, resesi ekonomi tetap tak terelakan.
Cerita resesi ekonomi menarik namun lebih menarik ketika kita memasuki wilayah akar rumput di mana covid-19 memunculkan dampaknya yang kasatmata.
Perjuangan para medis untuk menyelamatkan pasien yang terjangkit Covid-19 harus dipandang dengan sikap penuh hormat.
Mereka adalah garda terdepan dalam menghadapi ganasnya serangan Covid-19 yang melanda dunia.
Ada banyak dari mereka yang harus gugur ketika berjuang melawan serangan virus tak kasatmata ini.
Di Indonesia, para dokter, perawat, dan relawan bahu-membahu memperjuangkan penyelamatan hidup manusia.
Mereka yang bekerja di rumah sakit amupun tempat yang ditentukan untuk menyelesaikan masalah ini, bekerja bahu-membahu siang dan malam.
Keuletan mereka, keteguhan mereka, kegigihan mereka tidak mungkin lahir tanpa ada dasar yang kuat.
Mereka tentunya berdiri di atas alas cinta kasih. Cinta kasih yang memampukan mereka untuk tetap tegar, tulus, dan mau berkorban.

Cinta kasih yang mampu menggerakan hati, budi, dan tenaga mereka untuk terus berjuang dan bertahan di tengah badai pandemic ini.

Perjuangan para medis dan relawan covid-19 ini mengingatkan kita terhadap salah satu tokoh Gereja Katolik di zaman modern ini. Ia adalah Sta. Theresia dari Kalkuta.
Dia adalah pejuang kemanusian yang tidak pernah menyerah dengan keadaan. Ia adalah pejuang cinta kasih yang mau berkorban dan keluar dari zona nyaman untuk melayani mereka yang menderita dan berkekurangan.
Kata-katanya kepada inspektur polisi yang menanyakan tentang bagaimana ia mampu merawat orang-orang susah dan menderita yang begitu banyak di Kalkuta meletakkan dalam hati kita sebuah semangat Kristiani yang sejati; “Jika saya tidak mulai menolong satu orang sakit dan menderita ini, saya tidak akan sampai pada orang ke-seribu”.
Benarlah apa yang dikatakan orang bijak, seribu langkah ke depan dimulai dengan satu langkah di sini dan hari ini.
Bagi orang Katolik dan saudara-saudara yang berkeyakinan berbeda, apa yang pernah dilakukan oleh bunda Teresa merupakan teladan yang perlu dijadikan bahan refleksi bagi pelayanan kita demi kemanusiaan.
Apa yang telah ditunjukkan bunda Teresia merupakan satu pengingat bagi manusia modern bahwa semua usaha yang dilakukan dengan cinta dan pengorbanan yang tulus akan selalu bersinar dan membawa nilai positif bagi kehidupan.
Bunda Teresa telah menunjukkan bahwa pelayanan kepada orang miskin, sakit, dan bersengsara tidak boleh dilakukan dengan setengah-setengah hati.
Ia telah menunjukkan bahwa apa yang telah ia mulai, dilakukan dengan setiap hingga ajal menjemputnya.
Ia tetap berdiri tegak pada apa yang telah ia mulai. Ia tidak gentar menghadapi segala resiko dan tantangan yang menghadang di depan.
Para medis dan relawan yang melayani pasien-pasien Covid-19 juga harus kita hormati sebagai mereka yang tetap mau berdiri tegak dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.Penghormatan terhadap apa yang mereka buat sangat beralasan.
Mereka memberi diri secara total setiap hari. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian di Cina yang mengatakan bahwa banyak para medis yang mengalami stres karena beban kerja yang terlampau tinggi dan karena ketakutan tertular penyakit ganas yang belum dikenal baik oleh para ilmuwan ini.
Mereka takut, kalau-kalau mereka menjadi sumber yang menyumbang virus ini kepada keluarga-keluarga mereka.
Kecemasan dan ketakutan mereka menjadi dasar yang sangat kokoh bagi kita semua untuk mendukung dan menghormati apa yang telah mereka lakukan dan kerjakan.
Teladan Sta. Teresa dan apa yang telah dibuat oleh para medis dan relawan covid-19 dapat dijadikan “baliho besar” cinta kasih bagi manusia modern.
Gambaran pelayanan, keuletan, ketekunan, kesetiaan yang mereka berikan harus dipajang di jalan-jalan kota dan desa, di lorong-lorong sempit dan luas agar setiap orang melihat dan belajar tentang bagaimana melayani dengan penuh cinta.
Pelayanan yang telah mereka berikan tidak boleh hilang tergerus isu-isu politik yang datang-pergi dengan kepentingan.
Isu mereka harus terus digaungkan untuk memberikan gambaran-gambaran positif tentang pelayanan penuh cinta.Tidak pernah tahu kita, apakah pandemi ini akan cepat berlalu.
Kita serahkan semua pada perlindungan yang kuasa. Yang lebih perlu kita buat adalah membagi kasih dan aura positifnya.
Maka, walaupun ada di tengah badai yang bergelora kita tetap tenang dan mampu hidup di dalamnya.
Tak peduli kapan badai berlalu, yang penting bagi kita adalah berbagi kasih di tengah badai agar kita tidak mati karena putus asa.
error: Konten dilindungi!