Oleh: Rosalia Delima
Setelah melewati hari- hari yang terasa amat panjang, bernapas dalam gulungan penderitaan yang tak kunjung habis. Adalah suatu mujizat setiap kali terbangun di pagi hari, menyadari segala keniscayaan yang menopang raga dengan keterbatasan manusiawi.
Warna hitam dalam hari –hari lalu itu masih erat mengikuti langkah kakiku sampai hari ini. Seolah enggan untuk pergi. Kadang aku pergi, entah karma apa yang terus mengikat kaki, membelenggu jiwa hingga segala yang dihadapi terus saja dalam pusaan yang sama. Adalah ketakberdayaan manakala dalam mengatasi tak temukan celah penyelesaian seperti yang diharapkan.
Sikap dan tutur kata sesama manusia yang keberadaannya tak pernah berada dalam jalan yang sama, sangat menyakitkan. Tak jarang air mata dan tangis serta rasa sakit menikam begitu dalam. Badan yang bergetar, kepada siapakah kita marah ? Bahkan untuk marah pun serasa Tuhan tak mengijinkan.
Kemudian segala kenyataan itu merubah dasar nurani. Menjadi tawar, apatis juga egois.
Bilakah Tuhan menurunkan karma yang sama kepada mereka. Kapankah Tuhan bagikan rasa yang sama kepada mereka? Apakah Tuhan begitu mengasihi mereka dan menolak diri ini?.
Semakin hari kian terasa yang hidup adalah cangkang hampa. Pengabdian dalam panggilan hidup yang timpang. Tiada tawa yang benar –benar riang, tiada senyuman yang murni, tiada dahaga yang tercukupi dalam regukan, tiada rasa lapar yang sungguh dikenyangkan. Segala jadi tak seimbang.
Akhir dari semua kenyataan ini, berputar – putar di kepala penuhi ruang kosong. Biarlah serupa biji yang jatuh membelah diri lalu lebur dalam keabadian hinggga doa-doa sekiranya dapat langsung di hantar kepada langit.
Hingga kasih tak lagi berbatas ruang dan waktu. Hingga pandangan tak lagi terhalang oleh jarak.
Tetapi bagaimanakah jemari dapat memeluk cinta dan pandang dapat beradu meski berhadapan?
TUHANKU,
Siapakah Aku ini yang menginginkan begitu banyak dari padaMU?
Tak ada yang ku beri, tiada kebanggaan.
Penulis: Guru, pada salah satu Sekolah Dasar di Ruteng-Manggarai.
