Catatan Januari 2021

Oleh: Rosalia Delima

Setelah melewati  hari- hari yang terasa amat panjang, bernapas dalam gulungan penderitaan  yang  tak kunjung habis. Adalah suatu mujizat setiap kali terbangun di pagi hari, menyadari segala keniscayaan  yang menopang  raga dengan  keterbatasan manusiawi.

Warna   hitam  dalam hari –hari  lalu  itu masih erat mengikuti  langkah kakiku  sampai  hari ini. Seolah enggan   untuk pergi.  Kadang  aku pergi, entah karma  apa yang  terus  mengikat  kaki, membelenggu  jiwa hingga  segala yang dihadapi terus saja dalam  pusaan yang sama. Adalah  ketakberdayaan  manakala  dalam  mengatasi  tak temukan celah  penyelesaian seperti  yang diharapkan.

Sikap  dan  tutur   kata  sesama manusia yang keberadaannya tak  pernah   berada   dalam  jalan yang sama, sangat   menyakitkan. Tak  jarang  air mata  dan  tangis  serta rasa sakit menikam  begitu dalam. Badan   yang   bergetar, kepada  siapakah  kita marah ? Bahkan  untuk  marah pun serasa  Tuhan  tak  mengijinkan.

Kemudian   segala  kenyataan   itu  merubah  dasar nurani. Menjadi tawar, apatis juga egois.

Bilakah  Tuhan  menurunkan  karma  yang sama  kepada  mereka. Kapankah Tuhan  bagikan rasa  yang sama  kepada mereka? Apakah  Tuhan  begitu mengasihi  mereka dan menolak diri ini?.

Semakin  hari  kian  terasa  yang  hidup  adalah  cangkang  hampa.  Pengabdian dalam  panggilan  hidup  yang  timpang.   Tiada tawa yang  benar –benar  riang, tiada senyuman  yang  murni,  tiada  dahaga   yang  tercukupi  dalam regukan, tiada rasa lapar  yang sungguh dikenyangkan. Segala jadi tak  seimbang.

Akhir  dari  semua kenyataan ini,  berputar – putar di kepala penuhi ruang  kosong. Biarlah   serupa biji  yang jatuh membelah  diri  lalu lebur  dalam keabadian  hinggga  doa-doa sekiranya  dapat langsung di hantar  kepada  langit.

Hingga  kasih tak lagi berbatas  ruang  dan waktu.  Hingga  pandangan tak  lagi terhalang  oleh  jarak.

Tetapi   bagaimanakah jemari dapat  memeluk cinta  dan pandang dapat  beradu meski  berhadapan?

TUHANKU,

Siapakah  Aku  ini yang menginginkan begitu banyak dari  padaMU?

Tak  ada  yang  ku beri, tiada  kebanggaan.

Penulis: Guru, pada salah satu Sekolah Dasar di Ruteng-Manggarai.

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version