Oleh: Patrisius Kaha
Kita hidup pada zaman ketika manusia dapat dikenal melalui data, dinilai melalui angka, dan memperoleh pengakuan melalui tanda suka. Wajah, kebiasaan, minat, bahkan pilihan hidup perlahan menjadi bagian dari jejak digital yang tersimpan dan diolah oleh sistem teknologi.
Ironisnya, ketika dunia semakin mudah mengetahui tentang diri kita, manusia justru belum tentu semakin mengenal dirinya sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi telah mengubah kehidupan manusia, melainkan sejauh mana manusia masih memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya di tengah pengaruh teknologi.
Algoritma memang dapat mempelajari kebiasaan pengguna dan merekomendasikan konten sesuai minatnya. Namun, ketika manusia terus mengikuti arus rekomendasi tanpa sikap kritis, teknologi yang semula menjadi alat dapat perlahan memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan.
Dalam pemikiran Luciano Floridi, kehidupan manusia berlangsung dalam infosphere, suatu lingkungan informasi yang semakin menyatu dengan realitas sehari-hari. Karena itu, tantangan era digital bukan hanya persoalan kecanggihan perangkat, tetapi juga persoalan martabat, identitas, dan otonomi manusia. Sebab, kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin berdaya, bukan semakin kehilangan kuasa atas dirinya sendiri.
Besarnya pengaruh teknologi dapat dilihat dari perkembangan internet di Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru yang tersedia dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet Indonesia pada 2024 mencapai 79,5%, atau sekitar 221,56 juta orang. Sementara itu, laporan Digital 2025 yang diterbitkan DataReportal memperkirakan terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada awal 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia hingga 2026. Namun, tingginya penggunaan internet dan media sosial tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua penggunanya mengalami krisis identitas.
Data tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran luasnya ruang digital yang perlu dikelola secara bijaksana. Selain itu, angka dari berbagai lembaga dapat berbeda karena menggunakan definisi, metode, dan periode pengukuran yang tidak selalu sama.
Dalam kehidupan konkret, persoalan identitas digital dapat ditemukan ketika seseorang merasa harus selalu menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Ia memilih foto, menyusun kata-kata, dan membagikan pengalaman tertentu demi mendapatkan perhatian atau pengakuan. Akibatnya, muncul jarak antara dirinya yang ditampilkan di internet dan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalan lain terlihat ketika seseorang terus mengikuti rekomendasi konten tanpa mempertanyakan kebenarannya, membagikan informasi tanpa memeriksa sumbernya, atau menyerahkan terlalu banyak data pribadi kepada platform digital.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan digital bukan hanya mengenai kecanggihan teknologi, melainkan juga mengenai kebebasan, kejujuran, privasi, dan tanggung jawab manusia. Untuk memahami persoalan tersebut, saya menggunakan pendekatan filosofis, khususnya pemikiran Luciano Floridi mengenai infosphere dan etika informasi.
Pertama, konsep infosphere membantu kita memahami bahwa manusia kini hidup dalam lingkungan yang dipenuhi data, informasi, jaringan komunikasi, dan kecerdasan buatan. Dunia digital bukan lagi ruang tambahan yang terpisah dari kehidupan nyata, tetapi sudah menjadi bagian dari pengalaman manusia.
Kedua, konsep onlife memperlihatkan bahwa tindakan di dunia maya dapat membawa konsekuensi nyata. Unggahan yang tidak bertanggung jawab, misalnya, dapat merusak hubungan sosial. Sebaliknya, komunikasi digital yang baik dapat memperkuat solidaritas dan membantu orang lain.
Ketiga, konsep inforg atau information organism menggambarkan manusia sebagai makhluk yang kehidupannya semakin terhubung dengan informasi. Identitas seseorang kini tidak hanya dikenal melalui perjumpaan langsung, tetapi juga melalui data, riwayat aktivitas, dan jejak digitalnya.
Melalui pendekatan ini, saya berpendapat bahwa manusia tidak boleh dipandang hanya sebagai pengguna teknologi atau kumpulan data. Manusia tetap merupakan pribadi yang memiliki martabat, pertimbangan moral, dan kemampuan untuk menentukan sikapnya sendiri. Karena itu, etika informasi menjadi penting.
Teknologi harus digunakan dengan memperhatikan kebenaran informasi, perlindungan privasi, keadilan, dan kesejahteraan manusia. Algoritma boleh membantu menentukan informasi yang relevan, tetapi keputusan moral tidak boleh diserahkan begitu saja kepada sistem digital.
Menurut saya, menghadapi persoalan identitas digital tidak cukup dengan mengurangi penggunaan internet. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Pertama, setiap pengguna perlu mengembangkan kesadaran diri. Kita harus berani bertanya apakah suatu tindakan di media sosial benar-benar mencerminkan diri kita atau hanya dilakukan demi memperoleh pengakuan orang lain.
Kedua, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital, terutama kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami cara kerja rekomendasi algoritma secara umum, dan menjaga data pribadi. Sebelum membagikan suatu informasi, kita perlu memeriksa sumber serta mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Ketiga, pendidikan keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi perlu menanamkan etika digital. Pendidikan teknologi tidak boleh berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Keempat, penyedia platform dan pembuat kebijakan perlu memperkuat perlindungan privasi, transparansi pengelolaan data, serta pertanggungjawaban atas sistem yang dapat merugikan pengguna. Pada akhirnya, teknologi bukanlah musuh manusia. Namun, teknologi juga tidak boleh menjadi penguasa yang menentukan seluruh arah kehidupan kita.
Pemikiran Luciano Floridi mengingatkan bahwa kehidupan dalam infosphere membutuhkan tanggung jawab etis agar manusia dan lingkungan informasi dapat berkembang dengan baik.
Kita boleh hidup di antara dunia online dan offline, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk mengenali diri sendiri. Sebab, nilai manusia tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tanda suka, atau penilaian algoritma, melainkan juga oleh kejujuran, kebebasan, dan tanggung jawab yang diwujudkannya dalam kehidupan nyata.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
