Opini  

Ketika Media Membentuk Citra Perempuan: Tinjauan Teologi Feminis atas Budaya Representasi

Oleh: Paulus Hariyanto Nipu

Media massa, dalam segala bentuknya mulai dari iklan, sinetron, hingga media sosial memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk realitas sosial. Sayangnya, realitas yang dikonstruksi sering kali tidak berpihak pada perempuan. Di bawah kendali budaya patriarki, media kerap mereduksi identitas perempuan menjadi sekadar objek komodifikasi, pemuas visual atau sosok yang terjebak dalam domestikasi mutlak. Untuk membongkar ketimpangan ini, teologi feminis hadir sebagai pisau analisis yang krusial, menawarkan cara pandang baru yang membebaskan dan memulihkan martabat perempuan.

Jika kita menelaah tayangan televisi atau iklan hari ini, potret perempuan cenderung bias. Perempuan sering kali didefinisikan lewat standar kecantikan artifisial berkulit putih, bertubuh langsing, dan bersikap submisif. Di sisi lain, narasi media kerap menempatkan perempuan dalam dikotomi kuno: sebagai sosok domestik yang lemah atau sebagai penggoda yang destruktif.

Konstruksi visual ini menciptakan standarisasi yang menindas secara psikologis. Perempuan dipaksa memenuhi ekspektasi publik yang dibentuk oleh male gaze (sudut pandang laki-laki). Ketika media terus-menerus memproduksi citra yang timpang ini, masyarakat menganggapnya sebagai sebuah kodrat atau kebenaran alami. Di sinilah teologi feminis masuk untuk menggugat dominasi tersebut.

Teologi feminis bukan sekadar studi agama, melainkan sebuah gerakan pembebasan yang berakar pada kesadaran bahwa seluruh manusia tanpa memandang gender diciptakan setara dan mencerminkan citra Ilahi (Imago Dei). Selama berabad-abad, teks-teks keagamaan sering kali ditafsirkan secara patriarkal untuk melanggengkan subordinasi perempuan. Pola interpretasi yang bias ini kemudian diaminkan dan direproduksi oleh media massa.

Dari kacamata teologi feminis, reduksi citra perempuan di media adalah bentuk dehumanisasi yang menodai nilai-nilai spiritual. Ketika media mengkomodifikasi tubuh perempuan demi rating atau keuntungan materi, mereka sedang merendahkan makhluk yang seharusnya dihormati sebagai representasi sakral dari ciptaan Tuhan. Teologi feminis menolak keras penggambaran perempuan sebagai makhluk kelas dua atau sekadar pelengkap bagi narasi laki-laki. Perempuan adalah subjek penuh dalam sejarah keselamatan dan kehidupan sosial, yang memiliki agensi, suara, dan spiritualitasnya sendiri.

Untuk mengubah budaya representasi yang timpang ini, diperlukan langkah dekonstruksi dan rekonstruksi. Kita perlu membongkar narasi media yang menindas dan membangun kembali citra perempuan yang berdaya. Media harus mulai menampilkan keberagaman peran perempuan: sebagai pemimpin, ilmuwan, pemikir, sekaligus individu yang memiliki otoritas penuh atas dirinya sendiri.

Teologi feminis menawarkan kerangka kerja etis bagi para pembuat konten dan konsumen media. Bagi produser media, tanggung jawab moral spiritual harus melampaui motif ekonomi. Mereka ditantang untuk memproduksi konten yang menghargai pluralitas dan keadilan gender. Bagi kita sebagai konsumen, teologi feminis mengajak kita untuk menjadi penonton yang kritis tidak menelan mentah-mentah stereotip yang disuguhkan, melainkan berani bersuara dan menolak narasi yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Representasi perempuan di media bukanlah masalah sepele, karena apa yang tampak di layar akan membentuk apa yang terjadi di dunia nyata. Melalui tinjauan teologi feminis, kita disadarkan bahwa memperjuangkan keadilan gender di media adalah bagian dari panggilan iman untuk menegakkan kemanusiaan. Sudah saatnya media berhenti mengungkung perempuan dalam kotak patriarki. Perempuan harus direpresentasikan sebagai mahluk yang utuh, berdaulat, dan mulia sebagaimana hakikat awal penciptaannya.

Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version