Foto bersama dalam kegiatan PkM Peeguruan Tinggi berkolaborasi dengan UMKM Rumah Tenun Songke D’LerosE, di Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. (Foto: Ist).
LABUAN BAJO, RANAKANEWS.com – Upaya memperkuat kemampuan pengelolaan usaha dan pemasaran produk kerajinan lokal terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh Fosen Politeknik eLBajo Commodus di Rumah Tenun Songke D’LerosE, Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan PkM ini mengusung Tema “Digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah melalui Sistem Informasi Akuntansi, Keuangan, dan Pemasaran: Solusi Terpadu untuk Perhitungan Harga Pokok Produksi dan Peningkatan Penjualan”.
Program ini merupakan bentuk kolaborasi perguruan tinggi dengan UMKM lokal untuk membantu mitra memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan usaha sekaligus memperluas pemasaran produk tenun Manggarai.
Dosen Politeknik eLBajo Commodus sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan PkM, Laurensius Sandrio, S.Pd., M.M, menyampaikan “Kami ingin teknologi ini benar-benar membantu kebutuhan mitra, bukan hanya sekadar membuat website.
Dengan sistem ini, mitra bisa lebih mudah mencatat usaha, menghitung HPP, dan memasarkan produk melalui media digital.
Kami berharap sistem ini bisa terus digunakan dan membantu usaha tenun D’LerosE berkembang,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Untuk dikatahui bahwa Rumah Tenun Songke D’LerosE merupakan kelompok pengrajin tenun tradisional yang dipimpin oleh Hermina Jemuel dan memiliki 11 anggota.
Kelompok ini memproduksi kain songke, selendang, serta berbagai produk suvenir berbasis tenun Manggarai. Bagi kelompok tersebut, kegiatan menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi. Tenun menjadi bagian dari kehidupan dan identitas budaya yang terus mereka pertahankan.
“Kami sudah lama menjalankan usaha tenun ini. Jadi bukan hanya soal menjual kain, tetapi bagaimana tenun ini tetap ada dan bisa dikenal oleh orang lain. Karena itu, kami juga harus belajar mengikuti perkembangan zaman,” ujar Hermina.
Dari Pencatatan Manual Menuju Pengelolaan Digital
Sebelum program dilaksanakan, pengelolaan usaha Rumah Tenun Songke D’LerosE masih dilakukan secara sederhana. Pencatatan transaksi dan keuangan dilakukan secara manual. Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) juga belum didukung dengan sistem pencatatan biaya produksi yang terstruktur. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam program PkM. Tim pelaksana kemudian mengembangkan sistem informasi usaha berbasis website untuk membantu mitra mengelola data produk, transaksi, persediaan, informasi keuangan, serta perhitungan HPP.
Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh anggota kelompok.
Hermina mengaku bahwa sebelumnya proses menghitung biaya produksi membutuhkan pencatatan yang lebih sederhana dan terkadang harus dilakukan kembali ketika akan menentukan harga jual.
“Dulu kalau mau tahu harga produksinya, kami hitungnya satu-satu dari catatan yang ada. Kadang ada biaya yang lupa dicatat. Sekarang sudah ada sistemnya, jadi kami bisa lebih mudah lihat dan hitung biaya yang keluar untuk membuat produk,” jelasnya.
Melalui sistem yang dikembangkan, perhitungan HPP kini dilakukan secara digital, tidak lagi sepenuhnya mengandalkan perhitungan manual. Sistem membantu mitra mencatat komponen biaya produksi sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menghitung biaya produksi dan menentukan harga produk.
Bagi Hermina, perubahan tersebut membuat anggota kelompok mulai lebih memahami pentingnya pencatatan biaya dalam menjalankan usaha.
“Kami jadi tahu bahwa menentukan harga kain itu bukan hanya melihat bahan dan tenaga yang dipakai. Ada biaya-biaya lain yang harus dihitung juga. Sekarang kami mulai belajar mencatatnya dengan lebih rapi,” katanya.
Website Bersinergi dengan Media Sosial
Digitalisasi yang dilakukan tidak berhenti pada pengelolaan internal usaha. Website Rumah Tenun Songke D’LerosE juga diarahkan untuk mendukung pemasaran melalui berbagai kanal digital. Website menjadi pusat informasi produk yang kemudian dapat diperkuat melalui Instagram, Facebook, WhatsApp, dan TikTok. Dengan demikian, informasi mengenai produk tenun tidak hanya tersedia di satu platform, tetapi dapat disebarluaskan melalui berbagai media yang digunakan masyarakat.
Menurut Hermina, pemasaran digital membuka peluang baru bagi kelompoknya. Selama ini, pemasaran masih banyak dilakukan melalui penjualan langsung, pameran, maupun konsumen yang datang secara langsung.
“Kalau sebelumnya orang harus datang langsung untuk melihat kain, sekarang kami bisa memperkenalkan produk melalui media sosial. Orang bisa lihat dulu produknya dari jauh, kalau tertarik baru menghubungi kami,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan website dan media sosial dapat membantu produk Rumah Tenun D’LerosE dikenal lebih luas, termasuk oleh wisatawan yang datang ke Labuan Bajo.
“Kami berharap bukan hanya orang Manggarai atau orang yang tinggal di sini yang tahu. Kalau wisatawan melihat produk kami di Instagram atau TikTok, mudah-mudahan mereka tertarik dan bisa datang atau menghubungi kami,” tutur Hermina.
Sinergi antara website dan media sosial juga memberikan ruang bagi mitra untuk menampilkan katalog produk, memperkenalkan proses pembuatan tenun, serta menyampaikan informasi kepada calon konsumen. Website Rumah Tenun Songke D’LerosE dapat diakses melalui: https://rumahtenunsongkeleros.com/Website Songke D’LerosE https://rumahtenunsongkeleros.com/
Pelatihan Tidak Hanya Mengenalkan Teknologi
Selain membangun sistem, program PkM juga dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan. Sebanyak 11 anggota mitra mengikuti kegiatan untuk meningkatkan kemampuan menggunakan sistem digital dan memanfaatkannya dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Pendampingan meliputi penggunaan sistem untuk pengelolaan produk, pencatatan transaksi, persediaan, perhitungan HPP digital, pengelolaan informasi usaha, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran. Bagi mitra, proses belajar menjadi bagian penting karena sebagian anggota sebelumnya belum terbiasa menggunakan sistem digital untuk mengelola usaha.
“Awalnya memang kami agak bingung karena belum terbiasa. Tetapi setelah dijelaskan dan kami coba sama-sama, sedikit demi sedikit kami mulai belajar. Yang penting ada yang mendampingi kalau kami masih belum mengerti,” kata Hermina.
Ia menilai pendampingan dari perguruan tinggi memberikan pengalaman baru bagi anggota kelompok.
“Kami berterima kasih karena tidak hanya dibuatkan sistem, tetapi kami juga diajarkan bagaimana menggunakannya. Jadi kami tidak hanya menerima, tetapi ikut belajar,” tambahnya.
Kemampuan Mitra Mengalami Peningkatan
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mitra pada berbagai aspek. Kemampuan pengelolaan dan pencatatan usaha meningkat dari 10% menjadi 80%. Pemahaman terhadap perhitungan HPP meningkat dari 0% menjadi 75%.
Kemampuan menggunakan sistem digital meningkat dari 5% menjadi 75%, sedangkan pengelolaan informasi usaha meningkat dari 10% menjadi 80%. Pada aspek pemasaran digital, kemampuan mitra meningkat dari 10% menjadi 85%. Secara keseluruhan, rata-rata level keberdayaan mitra meningkat dari 7% sebelum program menjadi 79% setelah pelatihan dan pendampingan.
Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan kemampuan mitra dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung pengelolaan usaha dan pemasaran produk.
Teknologi Membantu Menjaga Tenun Tetap Eksis
Bagi Rumah Tenun Songke D’LerosE, digitalisasi bukan berarti meninggalkan cara-cara tradisional dalam membuat tenun. Proses menenun tetap dilakukan secara manual dan tradisional dengan keterampilan yang diwariskan dan dipelajari oleh para pengrajin. Teknologi digunakan hanya untuk membantu bagian lain dari usaha, terutama pencatatan, penghitungan biaya, pengelolaan informasi, dan pemasaran.
“Menenunnya tetap seperti biasa Pak. Kami tetap menggunakan cara yang kami tahu dan sudah kami jalankan. Teknologi ini lebih membantu kami untuk mengurus usaha dan memperkenalkan hasil tenun kepada orang lain,” ujar Hermina.
Ia berharap penggunaan teknologi tersebut dapat terus dilanjutkan meskipun program pendampingan telah selesai.
“Kami berharap sistem ini jangan hanya dipakai selama kegiatan saja. Kami ingin terus menggunakannya supaya usaha kami lebih tertata dan produk kami bisa semakin dikenal. Kalau pemasaran semakin luas, tentu kami juga semakin semangat untuk terus menenun,” pungkasnya.
Program PkM ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan kapasitas UMKM lokal melalui penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan perubahan pada cara UMKM mengelola usaha, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi produk budaya lokal untuk dikenal dan dipasarkan di tengah perkembangan ekonomi digital.
Dengan memadukan keterampilan tradisional menenun dan pemanfaatan teknologi digital, Rumah Tenun Songke D’LerosE diharapkan dapat terus mengembangkan usahanya sekaligus menjaga keberadaan tenun Manggarai sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. (*/ RN)










