Oleh: Dr. Roosna Maryani Octaviana Adjam, S.P., M.Si.
Badai Seroja pada April 2021 menjadi pengingat pahit bahwa Kota Kupang berada di garis depan ancaman bencana. Bukan hanya badai, tetapi juga banjir dan longsor kini menjadi bagian dari “musim” yang tak diundang.
Data menunjukkan potensi penduduk terpapar bencana mencapai 383.916 jiwa, masuk kategori tinggi dengan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp1,792 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata kerentanan sebuah kota yang setiap tahunnya berhadapan dengan risiko kehilangan jiwa, harta, dan infrastruktur. Ironisnya, di tengah ancaman besar ini, Kota Kupang sebenarnya memiliki “senjata” alami yang belum dimanfaatkan secara optimal: lanskap multifungsi.
Lanskap bukan sekadar pemandangan indah. Ia adalah bentang lahan yang terdiri dari ekosistem sungai, hutan, perbukitan, mata air, dan ruang terbuka hijau yang saling terhubung dan saling mendukung. Dalam konsep lanskap multifungsi, satu wilayah mampu menyediakan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara bersamaan: menyediakan air bersih, menjaga kesuburan tanah, menjadi habitat keanekaragaman hayati, mendukung kegiatan pertanian, hingga melindungi kota dari bencana.
Kekuatan lanskap multifungsi terletak pada empat fungsi utamanya. Fungsi penyedia seperti air bersih, ruang terbuka biru, area perikanan, bahan pangan, dan hasil hutan; fungsi pendukung seperti kesuburan tanah, fiksasi energi matahari, serta habitat tanaman dan satwa; fungsi budaya yang mencakup nilai estetika, spiritual, pertanian lokal, wisata, dan rasa keterikatan warga pada tempat tinggalnya; serta fungsi pengatur seperti pengendalian iklim, pencegahan banjir, longsor, erosi, dan abrasi pantai.
Dari semua fungsi ini, fungsi pengatur menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana. Lanskap yang sehat mampu menyerap air hujan, memperlambat limpasan permukaan, menahan tanah dari erosi, dan meredam kekuatan angin serta gelombang.
Kota Kupang memiliki daerah aliran sungai yang masih relatif sehat di bagian hulu. Wilayah ini berperan vital dalam menahan banjir, namun tekanan pembangunan dan minimnya ruang terbuka hijau menggerus kemampuannya. Vegetasi tepi sungai, misalnya, bukan hanya pemanis pemandangan, tetapi benteng alami yang mengikat tanah, menahan longsor, dan memperlambat arus air sebelum mencapai wilayah permukiman. Jenis tanah di sebagian besar wilayah Kupang adalah latosol eutrik dengan solum tebal hingga lima meter.
Secara alami, tanah ini memiliki kemampuan serap air yang tinggi. Namun, ketika permukaannya tertutup beton dan aspal, daya serap hilang dan air hujan mengalir cepat ke permukaan, menyebabkan banjir di titik-titik rendah.
Pengalaman warga bantaran Kali Dendeng menjadi bukti ketahanan berbasis komunitas. Mereka membangun bronjong batu untuk menahan erosi dan terjangan banjir. Upaya ini patut diapresiasi, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri. Diperlukan dukungan perencanaan kota yang terintegrasi agar benteng-benteng kecil ini menjadi bagian dari sistem pertahanan bencana yang lebih besar.
Hasil analisis ketahanan daerah menunjukkan Kota Kupang berada di level “sedang” dengan indeks ketahanan bencana 0,45. Artinya, sudah ada upaya penanggulangan, namun belum cukup kuat untuk memberikan manfaat optimal.
Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain lemahnya integrasi konsep lanskap multifungsi ke dalam kebijakan tata ruang, rendahnya kesadaran masyarakat akan fungsi ekologis lanskap, dan keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau serta rehabilitasi ekosistem.
Masih ada pandangan keliru yang memisahkan pembangunan kota dari kelestarian alam.
Padahal, di kota tropis seperti Kupang, akses terhadap ruang terbuka hijau, air sungai, dan lingkungan alami sangat penting untuk kelayakan hidup, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang paling rentan terhadap dampak bencana.
Ketahanan bencana tidak lahir dari reaksi darurat semata, tetapi dari pencegahan yang konsisten.
Mengintegrasikan konsep lanskap multifungsi dalam perencanaan kota adalah langkah strategis yang tidak hanya melindungi warga, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Rehabilitasi daerah aliran sungai untuk memperkuat fungsi penahan banjir dan mencegah erosi, pengembangan ruang terbuka hijau yang terhubung secara ekologis, pemanfaatan vegetasi lokal yang adaptif terhadap iklim kering, edukasi masyarakat tentang manfaat lanskap multifungsi, serta penguatan kebijakan tata ruang agar pembangunan tidak mengorbankan wilayah dengan fungsi ekologis penting adalah langkah-langkah yang perlu segera dilakukan.
Kota Kupang tidak kekurangan sumber daya alam untuk bertahan menghadapi bencana. Yang kurang adalah kesadaran untuk melihat lanskap bukan sekadar “lahan kosong” yang menunggu dibangun, tetapi sebagai benteng hidup yang bekerja tanpa lelah melindungi kota.
Badai dan banjir mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa ditekan jika lanskap multifungsi dikelola dengan bijak.
Kita sering membicarakan pembangunan bendungan, kanal, atau infrastruktur keras lainnya, namun melupakan kekuatan alami yang sudah ada di sekitar kita.
Menghidupkan kembali fungsi lanskap adalah investasi murah dengan keuntungan jangka panjang.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita akan terus membiarkan kekuatan ini tertidur, atau membangunkannya untuk menyelamatkan Kota Kupang dari badai masa depan?
Penulis: Pengampu Mata Kuliah Lanskap/Pertamanan dan Agroeduwisata
Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
