Minggu Sukacita: Persaudaraan yang Mengalir di Cewonikit dan Dampek

Pastor Paroki Cewonikit Romo Ardi Obot dan Pastor Paroki Dampek Rm.Willy Gandi didampingi Ketua DPP/DKP masing - masing. (Foto: Willy Grasias).

RUTENG, RANAKNEWS.com – Adventus ke III, yang dikenal sebagai Minggu Sukacita, bukan sekadar tanda liturgi. Di Ruteng, sukacita itu menjelma nyata dalam perjumpaan dua paroki: Cewonikit dan Dampek.

Sejak berdiri pada 2021, Paroki Cewonikit tumbuh dengan semangat saling menopang.

“Ketika imam dan umat bekerja sama, maka berkat Tuhan mengalir,” kata Romo Ardi Obot, Pastor Paroki Cewonikit, saat menyambut rombongan dari Dampek.

Kata-kata itu bukan sekadar nasihat, melainkan pengalaman yang dirasakan umat sepanjang akhir pekan 13–14 Desember 2025.

Persaudaraan yang Menyala
Kehadiran umat Dampek membawa warna baru: keterbukaan, keberanian, dan aura positif.

Ketua DPP Dampek, Salestinus Hasman, menyebutnya sebagai pengalaman iman yang lahir dari perjumpaan.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang penuh persaudaraan.

Untuk para imam yang bertugas di dua paroki itu, ia mengutip ungkapan budaya Manggarai: “Romo sampe lopo, jadi tuang sampe tua, imamat sampe mata.” katanya dalam bahasa Manggarai.

Doa sederhana itu menjadi harapan agar imam tetap setia mendampingi umat, bukan hanya di altar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Natal yang Lahir dari Perjumpaan
Natal yang akan dirayakan pekan depan, selalu lahir dari perjumpaan – Maria dan Elisabet, para gembala dan Bayi Yesus.
Begitu pula di Ruteng, perbedaan antara paroki kota dan desa tidak lagi menjadi jarak, melainkan ruang rahmat.

Romo Ardi dan Romo Willy menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar acara, melainkan kesempatan membuka hati.

“Gereja tampil sebagai rumah, bukan sekadar bangunan,” ujar Romo Ardi, diamini Romo Willy.

Toleransi yang Hidup
Sukacita itu bahkan melampaui batas gereja. IPTU Aris Ahmad, Kapolsek Lamba Leda Utara, hadir bersama istrinya yang berhijab, ikut menghantar persembahan.
Kehadirannya menjadi simbol bahwa persaudaraan tidak berhenti di lingkup gereja.

“Toleransi dan kebersamaan adalah fondasi hidup bermasyarakat. Kolaborasi menjadi tanda bahwa damai Natal itu sungguh nyata,” tegasnya.

Pelukan Rohani
Pa Yoakim Nurak, katekis senior Dampek, melihat kunjungan ini sebagai panggilan iman yang lebih dalam.
Ia menyoroti perjalanan Romo Willy Gandi, putra asli Cewonikit, yang kembali bersama umatnya.

“Romo Willy ketika datang sekaligus membawa umatnya ke Paroki Cewonikit adalah contoh bagus,” katanya.

Ia berharap suatu saat imam-imam asal Dampek yang berkarya di tempat lain juga mendapat kunjungan serupa.
“Imam pun membutuhkan pelukan rohani dari rumah asalnya,” tutupnya.

Sukacita yang Dihidupi
Persaudaraan antara Paroki Cewonikit dan Dampek bukan hanya kisah kunjungan, melainkan kisah yang hidup.

Ia mengalir dari doa ke tindakan, dari gereja ke masyarakat. Minggu Sukacita menegaskan bahwa Allah hadir ketika manusia memilih berjalan bersama.

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Bersyukurlah dalam segala hal.” (1 Tesalonika 5:16-18). (WG)

error: Konten dilindungi!