Religi  

Misa Penutupan Camino de Flores di Katedral Ende, Gubernur NTT Apresiasi Inisiatif Wisata Religius Inklusif

Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D pimpin Misa Penutupan Camino de Flores di Katedral Ende.

ENDE, RANAKANEWS.com – Perhelatan ziarah wisata religius Camino de Flores secara resmi ditutup melalui perayaan Misa Kudus di Gereja Kristus Raja Katedral Ende, Senin (26/10/2026). Perayaan penutupan ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D.

Camino de Flores adalah program wisata ziarah jalan kaki di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diinisiasi oleh Mari Elka Pangestu serta didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Pada ajang perdana ini, para peziarah melintasi etape tengah, menyusuri Ngada, Nagaekeo, dan berakhir di Ende. Konsep perjalanan ini terinspirasi dari jalur ziarah Camino de Santiago di Spanyol, tetapi disesuaikan dengan nilai-nilai, budaya, sejarah, dan spiritualitas khas Pulau Flores.

Dalam sambutannya di akhir misa, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas terlaksananya ide besar dari penggagas acara ini, Mari Elka Pangestu. Gubernur Melki menyoroti keberhasilan Camino de Flores, yang menurutnya menjadi terobosan baru di Indonesia.

“Kami bersyukur karena ide besar dari Ibu Mari Elka Pangestu untuk bisa membuat Camino de Flores bisa berjalan dengan baik. Luar biasanya, karena acara ini mungkin yang pertama di Indonesia, dan dibuat di Flores. Waktu diluncurkan di Kementerian Pariwisata, program ini langsung diambil sebagai program percontohan pariwisata religius. Melihat keberhasilan hari ini, tahun depan semoga Camino de Flores bisa diselenggarakan lagi,” ujar Gubernur NTT.

Gubernur NTT juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan Pemerintah Provinsi NTT dalam memberikan dukungan, sekaligus menjadikan ajang ini sebagai bahan pembelajaran bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata yang inklusif, seperti halnya Festival Golo Koe di Keuskupan Labuan Bajo.

Menutup sambutannya, Gubernur mengapresiasi para peziarah dari berbagai latar belakang yang telah melintasi Ngada, Nagekeo, hingga Ende.

“Tadi, Ibu Mari bilang, hatinya ditinggalkan di Flores. Kami ingin tidak hanya hati yang tertinggal, kalau nanti ada satu dua karya yang ingin ditinggalkan di Flores, saya sangat berterima kasih. Bapak Uskup, mohon membantu kami agar Camino de Flores bisa menjadi kekhasan kita di Flores, salah satu wisata religius yang bisa dikembangkan di Flores,” ungkap Gubernur Melki.

Hati Kami, Kami Tinggalkan di Flores!

Sementara itu, penggagas Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mengungkapkan rasa gembira dan syukurnya dapat menyelesaikan rute perjalanan sejauh 70 kilometer bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-70. Perjalanan ziarah yang dimulai dari Bajawa, Nagekeo, Mataloko, hingga berakhir di Ende tersebut berjalan dengan lancar dan sehat jiwa raga.

Mari menjelaskan bahwa aksi jalan kaki 70 km ini dilaksanakan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan gerakan bersama untuk menggalang dana bantuan pasca-gempa di Flores, termasuk bantuan perbaikan fasilitas di Katedral Ende serta aula katedral dalam rangka menyambut perayaan 100 tahun pada 2027.

“Yang membuat saya sampai merinding, selama perjalanan, banyak rumah dan gereja yang hancur, tetapi masyarakatnya bahagia dan tetap menyambut kami secara hangat dan ramah. Terima kasih untuk semua yang telah membuat acara ini sukses. Kami bersyukur dan merasa sangat bahagia. Hati kami, kami tinggalkan di Flores,” tutur Mari Elka Pangestu.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Agung Ende Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D., menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-70 kepada Mari Elka Pangestu dan apresiasi kepada seluruh peziarah yang berhasil menyelesaikan rute ziarah.

“Terima kasih, Ibu, mengambil inisiatif menandai ulang tahun ke-70 dengan menyelenggarakan Camino de Flores. Kiranya ini menjadi berkat untuk kami yang ada di Flores,” kata Mgr. Paul Budi Kleden.

Uskup Agung Ende juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian para peziarah yang membantu penyelesaian fasilitas toilet di Katedral Ende. Ia turut membagikan informasi mengenai rencana pembangunan rumah tinggal bagi para imam tua di Keuskupan Agung Ende. Uskup Budi berharap perayaan ulang tahun ke-70 dan kegiatan Camino de Flores ini mendapat kebaikan serta keberlanjutan di tahun-tahun mendatang.

Sebagai rangkaian dari acara penutupan Camino de Flores adalah bazar UMKM, pengenalan Serambi Sukarno di Biara St. Yosef Ende, serta resepsi di Kevikepan Ende. (***)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version