Charles Jama ( kiri ) dan baner alm Pius Pandur ( Foto: Ist.)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Sosok almarhum Pius Pandur, mantan guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 2 Ruteng, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 2 Langke Rembong, dikenang sebagai pendidik yang menghadirkan suasana belajar penuh kehangatan, humor, dan dialog bersama para siswa.
Kenangan tersebut dituangkan Karolus Budiman Jama yang sering disapa Charles Jama, alumni SMA Negeri 2 Ruteng yang kini menjadi dosen seni di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dalam sebuah tulisan reflektif berjudul “Pius Pandur dan Pedagogi Tawa: Membaca Wajah Seorang Guru dengan Kacamata Estetika dan Pendidikan Kritis.”
Dalam tulisannya, Charles menggambarkan Pius Pandur sebagai guru yang lembut tetapi tegas. Di tengah pola pendidikan yang pada masa itu masih kerap mengandalkan ketakutan dan hukuman, Pius menghadirkan pendekatan berbeda melalui humor, keterbukaan, dan kesediaan mendengarkan siswa.
Bagi Charles, tawa yang dihadirkan Pius di ruang kelas bukan sekadar hiburan atau selingan dalam proses pembelajaran. Tawa tersebut merupakan bagian dari pendekatan pedagogis yang membantu siswa merasa nyaman, berani menyampaikan pendapat, serta tidak takut melakukan kesalahan ketika belajar.
Pendidik tidak harus dibangun di atas ketakutan
Charles mengingat kembali suasana pendidikan pada era 1990-an, ketika sebagian siswa masih menghadapi proses belajar dengan perasaan tegang. Ketidaksiapan menjawab pertanyaan guru sering kali menimbulkan kecemasan, sementara hukuman menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dialami sebagian siswa.
Dalam konteks tersebut, pepatah “di ujung rotan ada emas” seolah menjadi pembenaran bahwa kedisiplinan dan keberhasilan belajar harus dibangun melalui rasa takut.
Namun, pengalaman Charles bersama Pius Pandur menunjukkan bahwa pendidikan dapat berlangsung dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Sebagai guru Bimbingan dan Konseling, Pius tidak menuntut siswa untuk selalu datang ke kelas dalam keadaan sempurna. Ia justru memberikan ruang bagi siswa untuk belajar, bertanya, mencoba menjawab, dan memperbaiki kesalahan tanpa harus merasa terancam.
Kritik dan sindiran yang disampaikan melalui humor membuat suasana kelas menjadi lebih cair. Siswa dapat menerima teguran tanpa merasa direndahkan, sekaligus memperoleh kesempatan untuk memahami kekeliruan mereka.
Pendekatan tersebut, menurut Charles, membantu membangun hubungan yang lebih terbuka antara guru dan murid.
Sejalan dengan refleksi Kristis Paulo Freire
Dalam refleksinya, Charles menghubungkan pengalaman belajar bersama Pius Pandur dengan pemikiran Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan kritis asal Brasil.
Freire mengkritik model pendidikan gaya bank, yakni sistem pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pemilik seluruh pengetahuan dan siswa sebagai penerima informasi secara pasif.
Sebagai alternatif, Freire menawarkan pendidikan hadap-masalah yang menekankan dialog, partisipasi, dan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.
Charles menilai, meskipun Pius Pandur tidak secara langsung mengajarkan teori Freire kepada murid-muridnya, praktik pendidikannya mencerminkan semangat dialog tersebut.
Pius memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan membicarakan persoalan yang mereka hadapi dalam proses belajar. Suasana yang dibangun melalui humor membuat siswa lebih berani terlibat dalam pembelajaran.
Dengan demikian, hubungan guru dan murid tidak semata-mata dibangun atas dasar kewenangan, melainkan juga melalui rasa saling menghargai dan kepercayaan.
Tawa sebagai Pengalaman estetis dalam pendidikan
Charles juga membaca sosok Pius Pandur melalui perspektif estetika pendidikan. Ia mengaitkan pengalaman tersebut dengan pemikiran Friedrich Schiller, John Dewey, dan Henri Bergson tentang hubungan antara pengalaman manusia, kegembiraan, seni, dan tawa.
Melalui perspektif itu, suasana belajar yang menyenangkan tidak dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan keseriusan pendidikan. Sebaliknya, kegembiraan dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih utuh dan bermakna.
Ekspresi wajah Pius yang jenaka, sindiran ringan, serta kemampuannya mencairkan suasana menjadi bagian dari kenangan yang terus melekat dalam ingatan para mantan muridnya.
Bagi Charles, humor tersebut bukan hanya membuat siswa tertawa, tetapi juga mendorong mereka membaca situasi, menafsirkan maksud, dan memahami pesan di balik ekspresi maupun perkataan sang guru.
Pengalaman itu secara tidak langsung melatih siswa untuk mengembangkan kepekaan, kemampuan menafsirkan, dan keberanian berpikir, bukan sekadar menghafal materi pelajaran.
Relevansi bagi pendidikan masa kini
Refleksi Charles terhadap sosok Pius Pandur juga menghadirkan kritik terhadap praktik pendidikan masa kini. Menurutnya, meskipun pendekatan pendidikan terus berkembang, suasana belajar yang menempatkan siswa di bawah tekanan masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Tekanan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk hukuman fisik. Ia dapat muncul melalui beban administratif, orientasi berlebihan pada angka dan peringkat, ujian, maupun tuntutan kurikulum yang membuat proses pembelajaran kehilangan ruang untuk dialog dan kreativitas.
Charles mengingatkan bahwa sekolah semestinya menjadi ruang yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bertumbuh, mengembangkan rasa ingin tahu, serta berani melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Ia menghubungkan gagasan tersebut dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang memandang pendidikan sebagai taman tempat anak berkembang sesuai kodratnya. Guru tidak semestinya hanya menjadi sosok yang memerintah, tetapi juga pamong yang membimbing dan memberikan dorongan kepada peserta didik.
Dalam konteks itu, Pius Pandur dikenang sebagai guru yang menerapkan pendekatan humanis melalui tindakan sederhana: senyum, lelucon, keterbukaan, dan kesediaan mendengarkan.
Warisan seorang guru yang tidak terlupakan
Bagi Charles Jama, warisan terpenting Pius Pandur bukan hanya materi pelajaran yang pernah disampaikan di ruang kelas, melainkan keberanian dan rasa percaya diri yang tumbuh dalam diri para muridnya.
Sosok Pius menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kemampuan guru menciptakan lingkungan belajar yang aman, membangun karakter, dan menumbuhkan keberanian untuk menghadapi masa depan.
Kenangan tentang Pius Pandur sekaligus menjadi ajakan untuk menghadirkan kembali kegembiraan dalam dunia pendidikan. Sebab, suasana belajar yang bebas dari ketakutan dapat membantu siswa mengembangkan potensi dan kemampuannya secara lebih utuh.
Dalam refleksi perpisahannya, Karolus menyampaikan penghormatan kepada sang guru yang telah memberikan kesan mendalam dalam perjalanan hidup para muridnya.
Ia mengenang bahwa hal paling berharga dari perjalanan mengejar cita-cita bukanlah semata-mata seberapa cepat seseorang melangkah, melainkan siapa yang telah membuatnya berani melangkah.
Pius Pandur, melalui senyum dan humornya, telah meninggalkan pelajaran bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan ketegangan untuk menghasilkan sesuatu yang berharga.
Sebab, sebagaimana direfleksikan Karolus, emas tidak selalu berada di ujung rotan. Terkadang, ia tersembunyi di ujung senyum seorang guru.
Selamat jalan, Bapak Pius Pandur. Jasa dan keteladananmu akan terus hidup dalam ingatan para murid yang pernah merasakan hangatnya ruang kelasmu.(WG)












