KUPANG, RANAKANEWS.com – Di era digital yang terus berkembang, perundungan siber menjadi ancaman serius yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional. Oleh karena itu, program aplikasi “Swipe Safe” hadir sebagai solusi preventif dan kuratif, memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai bentuk perundungan siber dan cara efektif.
“Swipe Safe” adalah sebuah kegiatan edukatif yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pelajar SMP dan SMA/ SMK di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dalam menghadapi perundungan siber serta melindungi diri di dunia digital.
Aplikasi Swipe Safe merupakan bagian dari upaya kolaboratif antara ChildFund Internasional dan berbagai mitra dalam menanggapi meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak atau pelajar di era digital.
Hal tersebut disampaikan Intan Dodo sebagai Fasilitator program aplikasi Swipe Safe dari Cita Madani NTT kepada ranakanews.com, usai memberikan materi di SMAN 3 Kupang pada Kamis (20/11/2025).
Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini, fasilitator program Swipe Safe dari Cita Madani NTT yang memberikan wawasan berharga dan studi kasus nyata. Selain itu, peserta juga diajak untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman, menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan kolaboratif.
Pantauan media ini, pelatihan ini diikuti oleh guru- guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan guru Pendidikan Agama Katolik. Dalam kegiatan ini, para peserta diberikan materi interaktif dan praktis mengenai identifikasi, pencegahan, dan penanganan perundungan siber.
Lanjut Intan, menjelaskan tujuan kegiatan ini yaitu untuk memperkenalkan aplikasi dari Swipe Safe tentang keamanan online untuk anak-anak siswa sehingga mereka bisa akses di mana saja untuk tentang keamanan online ini terus mereka juga bisa mengetahui tentang hal-hal apa saja yang mereka perlu siapkan atau mereka perlu ketahui sehingga ketika dalam menggunakan internet, mereka bisa aman dan mereka bisa tahu risiko-risiko apa saja yang mungin akan temui tapi mereka sudah punya pertahanan sendiri untuk ada dalam masalah-masalah tersebut.
Harapannya adalah untuk aplikasi ini anak-anak bisa mengetahui hal-hal apa saja yang mereka perlu perlu persiapkan dalam beselancar dalam berinternet kemudian aplikasi ini dikenalkan oleh banyak anak –anak siswa khususnya guru-guru bisa aplikasikan aplikasi ini dalam media pembelajaran setiap hari.
Intan menegaskan, melalui kegiatan “Swipe Safe” ini diharapkan para peserta dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing seperti lingkungan sekolah, menyebarkan kesadaran tentang pentingnya keamanan digital dan etika bermedia sosial.
“Kami berharap, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, anak-anak dapat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial, menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman bagi semua. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya digital yang positif, di mana setiap individu merasa terlindungi dan dihargai,” ujar Intan yang didampingi kawan-kawan Fasilitator dari Cita Madani NTT.
Kemudian diharapkan juga agar aplikasi ini dikenalkan oleh banyak anak –anak siswa khususnya guru-guru bisa aplikasikan aplikasi ini dalam media pembelajaran setiap hari,” pungkas Intan.
Sementara itu, Sirilus Ngara mewakili Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA dan PKLK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT mengakui aplikasi Swape Safe ini sangat bagus. “Karena di zaman sekarang dengan keterbukaan akses internet ini kan ada banyak hal yang sangat kita resahkan. Kalau internet ini digunakan secara baik mungkin akan bermanfaat untuk anak-anak SMA khususnya, tetapi kalau salah digunakan tanpa pengawasan akan berdampak akan sangat buruk. Jadi, dengan adanya aplikasi ini sangat bagus sehingga para guru bisa mengontrol aktivitas anak dalam berinteraksi; berinternet, bersosial media dan lain-lain,” ujar Staf Bidang Pembinaan Pendidikan SMA dan PKLK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT didampingi Ibu Ivonny Bernardus.
Terpisah, Kepala SMAN 3 Kupang, Ishak D.E.Balbesi menyampaikan terima kasih untuk ChildFund dan Cita Madani yang telah memperkenalkan program aplikasi Swape Safe ini ke SMAN 3 Kupang.
“Ini suatu langkah maju untuk bagaimana kita membatasi anak-anak kita. Saya kira berkaitan dengan maraknya penyebaran konten-konten yang berbau negatif atau pun penfitnahan atau mengakses media- media sosial yang tidak pada tempatnya, saya selaku guru dan juga sebagai pimpinan di sekolah ini saya pikir perlu kita menghimbau kepada orang tua siswa; mari kita bersama-sama membimbing anak-anak kita karena karakter anak-anak kita ini mereka terbentuk dari rumah, kemudian di sekolah itu hanya prinsipnya sekolah menguatkan mereka punya karakater. Jadi, orang tua saya kira cari waktu, cari kesempatan atau tetapkan satu waktu di rumah untuk ada bersama dengan anak-anak di rumah dalam Doa bersama keluarga sehingga di saat momen doa bersama itu ada penguatan- penguatan yang disampaikan oleh orang tua sebagai didikan untuk anak-anak kita bisa terhindar dari maraknya atau perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini. Sehingga soal moral dan soal kerohanian bagus, pasti mereka akan menyeleksi,” tegas Kepsek Ishak Balbesi.
Oswaldus A. O. Keraf, Guru Pendidikan Agama Katolik, yang turut hadir pada pelatihan tersebut mengatakan, “Pertama, saya sangat bersyukur, kebetulan literasi digital ini salah satu hal yang ingin saya juga tekuni, karena bagaimana dipengaruhi media informasi zaman sekarang anak-anak cendrung berkecimpung dalam media digital. Jadi untuk itu kita sebagai guru harus juga paham secara betul, secara detail, supaya kita memberikan pendampingan kepada anak, memberikan pemahaman kepada mereka bagaimana bahaya media internet kalau tidak digunakan secara bijak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dan juga ada beberapa hal di dalam mata pelajaran kami yang bersinggungan juga dengan materi yang disampaikan oleh pemateri hari ini. Jadi saya rasa sangat bermanfaat bagi kami sebagai guru, dan juga kami bisa terapkan kepada anak,” ungkap Oldi Keraf.
“Harapannya aplikasi ini mungkin terus diperbaharui, dikembangkan, agar biasa menyentuh diperkembangan anak saat ini dan lebih relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari,” tambah Oldi Keraf. (TD)
