KUPANG, RANAKANEWS.com- Wakil Dekan I FKIPK IAKN Kupang, Ireni I. Pellokila, M. PAK membuka dengan resmi Seminar dengan Thema “Manusia di Era Globalisasi” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa S1 semester VI kelas B Pogram Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) IAKN Kupang merupakan bagian dari Mata Kuliah Agama dan Antropologi Budaya. Kegiatan Seminar ini berlangsung di GMIT Sillo Naikoten 1, pada Kamis (30/6/2022).
Ireni Pellokila dalam sambutannya mengatakan bahwa dunia pendidikan Perguruan Tinggi membutuhkan terobosan- terobosan seperti ini, dengan merancang kegiatan seminar seperti ini, mahasiswa diharapkan terus aktif, terus berkolaborasi dengan masyarakat luas kampus, dan terus berinovasi agar dapat memodali diri hingga selesai studi nanti.
Beliau juga menjelaskan bahwa setiap Mata Kuliah diharapkan memiliki luaran atau output dan ilmu dapat tersebar luas untuk masyarakat luar kampus.
Wakil Dekan I ini pun menegaskan IAKN akan trus bersama- sama masyarakat NTT dalam mendukung majunya perkembangan Pendidikan NTT.
Pembicara pada seminar ini adalah Dr. Simon Kasse, M.Pd. dan salah seorang Mahasiswi yang adalah Duta Belajar IAKN Kupang Vebriana Lanmani.
Pembicara pertama Vebriana menjelaskan di era modernisasi manusia terus berkembang bukan saja ilmu pengetahuan manusia yang berkembang tapi sikap dan perilaku manusia ikut berkembang sejalan dengan modernisasi, tidak selesai di sana perkembangan ini masuk sampai di dalam gereja kristen.
Namun menurut vebriana perkembangaan modernisasi membawa dampak baik tapi juga ada sisi negatifnya, namun sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Kristen atau sebagai orang muda kita diharapkan mengambil hal-hal positif dalam perkembangan modernitas atau globalisasi, dan meninggalkan yang negatif.
“Orang muda diharapkan mampu memfilter segala apa yang terjadi di muka bumi ini. Sehingga kita menjadi orang muda yang tidak latah akan apa yang terjadi saat ini,” ujar Vebriana dalam keterangan tertulis yang diterima media ini, Kamis (30/6/2022).
Sementara keynote speaker Dr. Simon Kasse, M.Pd. K. menjelaskan perkembangan manusia di era globalisasi harus dipandang sebagai berkat, bukan menghadirkan kutuk. Sebagai manusia yang berakal budi, manusia berpikir dan terus berkembang maju, bisa menghasilkan berbagai hal. Manusia terus bertumbuh dan berkembang, dan perkembangan-perkembangan itu terus terjadi.
Masih menurutnya jika berbicara soal perkembangan manusia saat ini, kita sebagai manusia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Perkembaangan iptek begitu cepat, semuanya tentu mempermudah kehidupan manusia. Namun tentu ada begitu banyak kelemahan- kelemahan dalam perkembangan ini.
Ada banyak kontradiksi, globalisasi juga ikut melumpuhkan kearifan- kearifan lokal. Banyak budaya-budaya yang hilang, orang muda banyak yang melupakan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya, melupakan tradisi-tradisi bermental instant, bersikap individualisme, bahkan ada yang melupakan Tuhan.
Di titik inilah muncul pertanyaan globalisasi membawa berkat atau kutuk? Sebagai makluk yang berTuhan globalisasi membawa berkat. Karena kita memiliki kebijakan untuk melihat dan memutuskan mana yang baik, kita diberi akal untuk dapat berpikir cerdas, memilih dan memilah mana perbuatan postif dan mana negatif. Sebagai orang muda kristen harus memiliki kepekaan lebih agar bisa bertahan dan melewati seluruh perkembangan zaman atau modernisasi ini, dan tetap menjadi pemenang ditengah zaman yang terus berkembang, tentu dengan bersandar pada kasih dan kemurahan Tuhan,” tutupnya. (***)
