WAIBAKUL,RANAKANEWS.com – Yayasan Bahtera Sumba menggelar dialog multi stakholder Kamis (21/09/2023)di Aula Kantor desa Anajiaka,Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat,Kabupaten Sumba Tengah,NTT.
Direktris Yayasan Bahtera Martha Rambu Bangi menyampaikan bahwa
pendidikan Inklusif untuk sekolah-sekolah umum yang berada di Sumba Barat dan Sumba Tengah masih dianggap hal baru,sehingga penerapan ditingkat sekolah dasar boleh dikatakan masih kurang dan bahkan belum ada, hal ini disebabkan oleh karena ketersediaan guru khusus yang menangani ABK serta memiliki pengetahuan dan tentang pendidikan inklusif belum tersedia, hal ini juga mengakibatkan umum tidak menerima siswa ABK.
Martha juga menjelaskan selain masalah pendidikan inklusif dan gizi anak,kekerigan terhadap anak dan persoalan kerawanan bencana di sekolah menjadi salah satu hal yang magih terabaikan.Pengurangan Resiko Bencana (PRB) pada satuan pendidikan magih belum disosialisasikan secara massif sehingga hal ini akan berpengaruh pada banyaknya korban ketika terjadi bencana.
Diperlukannya kemampuan melakukan mitigasi bencana oleh warga sekolah dan masyarakat karena banyak sekolah di Indonesia berada pada daerah rawan bencana seperti tsunami, banjir, angin puting beliung, gempa, longsor, kekeringan,kebakaran.
Sehubungan dengan persoalan-persoalan ini, dalam rangka kolaborasi, sinkronisasi dan integrasi Program Sekolah Aman di Kabupaten Sumba Tengah maka perlu disampaikan bahwa program sekolah aman merupakan kerjasama YAPPIKA-ActionAid dan Yayasan Bahtera melalui dukungan dana publik dilakukan kegiatan “Dialog Multi Stakeholder” untuk membangun gerakan yang sama,”jelas Martha.
Kepala Sekolah SDN Rajaka Markus mengatakan bahwa hasil kebun, kandang dan kolam tersebut juga dapat dijual yang hasilnya sebagai upaya keberlanjutan pengelolaan oleh Komunitas Sekolah.Konsep ini dikembangkan sebagai upaya memenuhi kualitas dan kuantitas nutrisi dan gizi murid dan keluarga. Selain juga sebagai upaya meningkatkan perekonomian anggota komunitas sekolah melalui berkurangnya pengeluaran untuk keperluan sayur dan lauk serta meningkatkan pendapatan dengan penjualan hasil kebun maupun hasil olahannya.
Kebun Gizi yang dikembangkan di Sekolah dengan memanfaatkan lahan milik sekolah, dikelola oleh guru dan murid. Ini akan menjadi wahana belajar murid mengenai keanekaragaman hayati serta belajar dalam pengelolaan pertanian berkelanjutan.Kebun gizi di sekolah dikembangkan tanaman hortikultura secara organik dengan melibatkan murid mulai dari penyiapan lahan, merawat tanamannya dan melakukan panen.
Hasil panen akan dimasak dan untuk makan bersama para murid sebagai bagian dari upaya penambahan nutrisi mereka. Proses ini akan berkolaborasi dengan anggota komunitas sekolah.
Kebun Gizi di tingkat Komunitas Sekolah dikembangkan secara komunal dan individu.Komunal dimaksud adalah kebun gizi dikelola oleh beberapa anggota Komunitas Sekolah. Satu Komunitas Sekolah dapat memiliki dan mengelola beberapa kebun gizi,”ungkap Markus.(yb/rn)
