Demokrasi yang Berjalan Tanpa Jiwa

KUPANG, RANAKANEWS.com – Indonesia menegaskan dirinya sebagai negara demokrasi dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945: kedaulatan berada di tangan rakyat. Namun, di tengah idealisme itu, perjalanan demokrasi nasional kian memperlihatkan wajah yang muram. Sistem yang seharusnya hidup dari partisipasi, keadilan, dan kebebasan warga, kini justru menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Dalam satu dekade terakhir, kualitas demokrasi Indonesia terus menurun. Laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) 2025, sebagaimana dirangkum Kompas.id (5/3/2025), mencatat Indeks Demokrasi Indonesia pada 2024 turun menjadi 6,44 dari 6,53 pada 2023, menempatkan Indonesia di peringkat 59 dari 167 negara. Sejak 2015, Indonesia konsisten berada dalam kategori demokrasi cacat (flawed democracy).

Di tengah situasi itulah ruang-ruang intelektual menjadi benteng terakhir untuk merawat nalar publik. Kesadaran itu yang mendorong Komunitas Mendi Project kembali menggelar bedah buku sebagai bagian dari kelas ilmiah bulanan.
Namun kali ini berbeda: ruang diskusi dibuka bagi publik luas melalui peluncuran buku perdana Ernestus Holivil, dosen Administrasi Negara FISIP Undana, berjudul Demokrasi Zombie.

Acara yang digelar 4 Desember 2025 di Aula Pascasarjana Undana itu terlaksana atas kerja sama dengan FISIP Corner, HMPS Ilmu Administrasi Negara, dan BEM FISIP Undana. Buku tersebut berisi kumpulan opini Ernest yang sebelumnya terbit di berbagai media, yang memotret demokrasi Indonesia sebagai sesuatu yang bergerak, tetapi kehilangan jiwa—hidup, namun tidak sepenuhnya bernyawa.

“Demokrasi Kita Tidak Sedang Baik-Baik Saja”

Diskusi dipandu oleh Gusty Rikarno, Direktur Media Cakrawala NTT. Ia membuka forum dengan refleksi filosofis tentang pentingnya berpikir kritis: tesis–antitesis–sintesis, konstruksi–dekonstruksi–rekonstruksi.

“Tidak ada kebenaran yang sepenuhnya mutlak. Jika hari ini kita berkumpul untuk membedah buku ini, artinya ada yang keliru dalam cara kita memahami demokrasi,” katanya.

Gusty menyebut demokrasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ia bahkan menyindir bahwa setelah buku terbit, “Ernest seolah mati—yang tersisa hanyalah gagasannya.” Pertanyaannya, apakah gagasan itu mengganggu, menggugah, atau justru kita anggap biasa saja?

Prof. David Pandie: Demokrasi Kita Suam-Suam Kuku

Pembedah pertama, Prof. Dr. David B. W. Pandie, menilai istilah “zombie” dalam judul buku ini memang menakutkan, tetapi sangat tepat. Demokrasi yang seharusnya humanistik justru dipersonifikasikan sebagai “mayat hidup”.

Menurutnya, selama 27 tahun pasca-reformasi, demokrasi Indonesia belum pernah benar-benar mencapai tahap konsolidasi. “Demokrasi kita suam-suam kuku. Tidak panas, tidak dingin,” ujarnya.

Kemerosotan demokrasi, kata Prof. David, bukan semata akibat kekuasaan yang korup, tetapi juga karena kegagalan publik membangun gerakan berpikir kritis. Ia mengaitkan kondisi ini dengan tren global menguatnya rezim otoriter.

Mengutip John Dewey, ia menegaskan bahwa demokrasi bukan sekadar sistem, melainkan way of life. “Masalah kita, demokrasi belum menjadi organisme yang hidup.”

Dr. William Djani: Metafora Gelap, Tapi Tepat

Pembedah kedua, Dr. William Djani, Dekan FISIP Undana, menyoroti produktivitas Ernest sebagai akademisi. “Dalam dunia akademik, yang ditanya bukan pangkat, tetapi karya. Ernest menjawab itu lewat buku dan tulisannya,” ujarnya.

Menurut William, demokrasi dalam buku ini digambarkan sebagai tubuh yang berjalan tanpa jiwa, digerakkan oleh naluri dan kepentingan elite. Ia kemudian melontarkan pertanyaan krusial: sampai kapan demokrasi zombie ini dibiarkan?

Ia menyinggung korporatisme kebijakan dan fenomena “matahari kembar” dalam politik nasional sebagai gejala demokrasi yang kehilangan substansi.

“Demokrasi hanya bisa hidup kembali jika ada perlawanan warga dan reformasi institusional yang nyata,” tandasnya.

Fransiskus Sarong: “Tidak Ada yang Jenaka dari Buku Ini”

Pembedah berikutnya, Fransiskus Sarong, mengaku awalnya ragu menerima tugas karena terganggu oleh diksi “zombie” yang terasa tidak lazim di ruang publik. Namun justru di sanalah kekuatan buku ini: menyebut demokrasi sebagai mayat hidup—bergerak, tetapi kehilangan nilai.

Ia mengapresiasi keberanian Ernest menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi cacat, di tengah ruang publik yang semakin anti kritik.

Menanggapi prolog Boni Hargens yang menyebut buku ini “jenaka dan mendalam”, Sarong menegaskan: “Saya setuju mendalam, tetapi tidak ada yang jenaka dalam buku ini.”

Ia juga menekankan pentingnya periodisasi demokrasi agar publik bisa melihat dengan jelas titik balik kemerosotannya. Sebagai alumnus Undana, ia berharap lebih banyak akademisi berani tampil di ruang publik. “Jangan sampai kepintaran hanya menjadi pajangan etalase,” katanya.

Dr. Marsel Robot: Wura Ceki dan Demokrasi yang Disodomi

Penyampaian Dr. Marsel Robot berlangsung penuh satire, humor getir, dan kritik tajam. Ia menyebut kampus sempat menjadi “kuburan besar kaum intelektual” sebelum kembali dihidupkan oleh gerakan literasi.

Marsel bahkan mengoreksi metafora zombie secara kultural. Dalam tradisi Manggarai Timur, dikenal istilah wura seki—arwah yang tidak pernah disempurnakan ritusnya sehingga terus berjalan tanpa kendali, merusak tanpa terlihat. Menurutnya, konsep ini jauh lebih tepat menggambarkan demokrasi hari ini.

“Zombie bisa mati ditembak. Tapi wura ceki berjalan terus, mau orang tidur atau bangun,” ujarnya.

Ia juga menyentil absurditas ketika korupsi dianggap sebagai “berkat Tuhan”, hingga Tuhan pun, katanya, “menjadi bingung”. Mengutip Nietzsche, ia menyindir: kebingungan panjang itu membuat Tuhan akhirnya “mati”.

Marsel bahkan menyebut kondisi kita bukan hanya hidup dalam demokrasi zombie, tetapi telah “disodomi oleh zombie”—kritik keras terhadap praktik kekuasaan yang menyimpang secara struktural.

Alarm dari Kampus

Peluncuran buku Demokrasi Zombie bukan sekadar seremoni literasi. Ia adalah alarm keras dari ruang akademik tentang kondisi demokrasi Indonesia hari ini—demokrasi yang masih bergerak, tetapi kehilangan roh keadilan, partisipasi, dan keberpihakan pada rakyat.

Di ruang diskusi itu, demokrasi tidak dipoles agar tampak indah. Ia dibedah, dipertanyakan, bahkan ditelanjangi dengan metafora yang ekstrem. Justru karena itulah buku ini menjadi penting: sebagai cermin yang memaksa bangsa ini menatap wajahnya sendiri, apa adanya.

Dan dari kampus Undana, suara itu kembali menggema: bahwa demokrasi tidak boleh dibiarkan menjadi mayat hidup. Ia harus dibangunkan—atau ia akan terus berjalan, tanpa jiwa, merusak tanpa terasa. (HG)

 

 

 

 

error: Konten dilindungi!