Pergi ke Betlehem: Ziarah Pengharapan Gereja Ruteng di Ambang Natal 2025

“Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga.” (Yes 35:1)

Uskup Ruteng Mgr.Siprianus Hormat, Pr. ( Foto ist).

RUTENG, RANAKANEWS.com – Natal selalu datang membawa terang. Namun tidak jarang terang itu justru paling jelas tampak ketika malam terasa paling gelap. Itulah nada dasar yang mengalun dalam Surat Gembala Natal 2025 Uskup Ruteng, sebuah sapaan iman yang lahir dari kepekaan gembala terhadap luka umat dan kegelisahan zaman.

Dibacakan pada Minggu Ketiga Advent, 14/12/2025, surat ini bukan sekadar pengantar perayaan Natal. Ia adalah undangan ziarah batin: berjalan bersama menuju Betlehem, tempat Allah memilih hadir dalam kesederhanaan, kerapuhan, dan kemiskinan manusia.

Sukacita yang Bertumbuh di Tanah Gersang

Nabi Yesaya melukiskan sukacita kosmis: alam yang kering kembali berbunga, yang mati kembali hidup. Gambaran ini bukan sekadar metafora ekologis, melainkan simbol karya keselamatan Allah yang menjangkau seluruh ciptaan.

Uskup Ruteng menempatkan nubuat ini di tengah realitas konkret umat: duka karena kehilangan, luka relasi keluarga, kegagalan hidup, kemiskinan struktural, hingga bencana alam yang tak henti-henti. Dalam situasi itu, Natal tidak ditawarkan sebagai pelarian rohani, melainkan kehadiran Allah yang menyelamatkan dari dalam penderitaan.

“Jangan takut, kuatkan hatimu,” seruan Yesaya itu bergema kembali hari ini. Allah bukan jauh dan tak peduli. Ia adalah Imanuel, Allah yang menyertai, Allah yang masuk ke dalam sejarah luka manusia.

Gereja yang Berjalan Bersama Dunia yang Retak

Surat Gembala ini juga merefleksikan suara Gereja Indonesia melalui Sidang Agung KWI 2025. Penindasan nilai kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, krisis ekologis, serta kerentanan kelompok marjinal menjadi tanda-tanda zaman yang tak bisa diabaikan.

Di hadapan dunia yang “retak di jalan, di pasar, di ruang digital, dan di hati masyarakat”, Gereja dipanggil bukan sekadar memperbanyak aktivitas, tetapi menghidupkan Kristus di tengah realitas itu.

Gereja, ditegaskan Uskup Ruteng, adalah peziarah pengharapan—umat Allah yang tidak berjalan sendiri, melainkan saling menopang, mendengarkan, dan menguatkan dalam terang Kristus.

Natal yang Lahir di Tengah Keluarga

Dalam pesan Natal bersama KWI dan PGI 2025, keluarga mendapat perhatian khusus. Keluarga hari ini menghadapi tekanan berat: perpisahan, kekerasan dalam rumah tangga, jerat judi dan pinjaman online, narkoba, serta budaya individualisme dan materialisme.

Namun justru di sanalah Yesus ingin lahir kembali.

Keluarga Nazaret menjadi ikon iman: tempat kasih bertumbuh dalam kesederhanaan dan ketaatan pada kehendak Allah. Uskup Ruteng mengajak setiap keluarga menjadi ruang pemulihan, tempat relasi diperdamaikan, iman diteguhkan, dan harapan dinyalakan kembali.

Ekaristi: Allah yang Tinggal dan Mengubah

Natal tidak berhenti di palungan. Allah yang lahir itu terus tinggal bersama umat-Nya dalam Sakramen Ekaristi. Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif 2025 di Keuskupan Ruteng menjadi kesaksian bahwa Ekaristi bukan hanya perayaan liturgis, melainkan sumber daya rohani yang mengubah kehidupan.

Dari adorasi hingga prosesi, dari altar hingga jalanan kampung, Ekaristi menjelma menjadi belarasa sosial dan kepedulian ekologis. Yesus yang diwartakan dalam roti dan anggur menjadi Yesus yang dikenali dalam wajah orang miskin dan dalam bumi yang terluka.

Menuju Sinode IV: Gereja sebagai Cara Hidup

Dengan berakhirnya Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif, Keuskupan Ruteng menutup satu dekade perjalanan Sinode III dan bersiap memasuki Sinode IV tahun 2026. Sinode dipahami bukan sebagai agenda administratif, melainkan cara hidup Gereja—modus vivendi dan modus operandi umat Allah.

Uskup mengajak seluruh umat, klerus dan awam, untuk terlibat aktif: dalam doa, katekese, diskusi, dan aksi nyata. Sinode adalah seni berjalan bersama, mendengarkan Roh Kudus yang sering berbicara melalui suara yang kecil dan tak terduga.

Betlehem di Tengah Zaman Ini

“Mari kita pergi ke Betlehem” adalah ajakan untuk menemukan Allah yang terus lahir hari ini—di tengah keluarga, dalam Ekaristi, dalam proses sinodal, dan dalam perjuangan merawat sesama serta ibu bumi.

Natal 2025, bagi Gereja Ruteng, adalah panggilan untuk berjalan bersama dalam pengharapan. Sebab pengharapan yang berakar dalam kasih Allah tidak akan mengecewakan (Rm 5:5).

Dan di tengah dunia yang sering terasa seperti padang gurun, iman mengajarkan kita satu kebenaran sederhana:
Allah telah datang. Allah tinggal bersama kita. Dan karena itu, hidup selalu memiliki masa depan. (WG)

error: Konten dilindungi!