Banjir Berulang Sejak 2020, Puluhan Rumah di Poto Terendam, Camat Fatuleu Barat Akhirnya Turun Tangan

Koordinator Aliansi Suara Fatuleu Barat, Justus Petrus Karma bersama Warga  melakukan survei lokasi jalur sungai yang akan dinormalisasi.

KUPANG, RANAKANEWS.com – Sedikitnya lebih dari 30 kepala keluarga (KK) di Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, terpaksa mengungsi pada malam hari akibat meluapnya Sungai Nek’oni dan Sungai Oelakobis.

Banjir terjadi sejak Senin malam, 23 Februari 2026 hingga Selasa dini hari, 24 Februari 2026, dan kembali berlanjut pada Rabu malam, 25 Februari 2026, sekitar pukul 23.00 hingga 05.00 WITA.

Luapan air sungai masuk ke permukiman warga dan menyebabkan kepanikan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, warga mengaku tidak dapat beristirahat hingga pagi hari.

Air yang menggenangi rumah warga turut menghanyutkan berbagai peralatan rumah tangga, seperti ember, piring, sendok, bokor, pakaian, sandal, kursi, serta ternak milik warga berupa babi dan ayam.

Menanggapi kejadian tersebut, Koordinator Aliansi Suara Fatuleu Barat, Justus Petrus Karma, menyampaikan keprihatinannya.

Dalam sebuah video yang diterima media, Justus menegaskan bahwa persoalan banjir tersebut seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Desa Poto dan pihak Kecamatan Fatuleu Barat.

Menurutnya, normalisasi Sungai Nek’oni dan Sungai Oelakobis perlu segera dilakukan agar masyarakat tidak terus dirugikan setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Wilayah yang terdampak banjir diketahui berada di RT 002, RT 003, dan RT 004 Dusun I Bonatama, Desa Poto.

Justus juga mengungkapkan bahwa persoalan luapan sungai sebenarnya telah dilaporkan oleh warga sejak tahun 2020. Namun hingga Februari 2026, belum ada langkah konkret dari pemerintah desa untuk melakukan normalisasi sungai.

Hasil koordinasi antara Justus Petrus Karma dan Camat Fatuleu Barat, Ayub Anzgar Manafe, pada Kamis, 26 Februari 2026 di aula kecamatan, membawa harapan baru bagi warga terdampak. Camat Fatuleu Barat berjanji akan segera menurunkan alat berat berupa ekskavator dalam waktu satu hingga dua hari ke depan guna melakukan normalisasi kedua sungai tersebut.

Justus pun memberikan apresiasi atas respons cepat Camat Fatuleu Barat yang langsung menghubungi Dinas PUPR serta dinas terkait penanggulangan bencana di Kabupaten Kupang melalui sambungan telepon, tanpa harus melalui proses administrasi yang berlarut-larut.

Menyikapi rencana penurunan ekskavator tersebut, Aliansi Suara Fatuleu Barat bersama warga terdampak telah melakukan survei lokasi jalur sungai yang akan dinormalisasi.

Warga juga menunjukkan inisiatif swadaya dengan mengumpulkan dana sebesar Rp20.000 per kepala keluarga, bahkan ada yang memberikan lebih, untuk membantu operasional operator alat berat.

Hingga kini, dana swadaya tersebut terus dikumpulkan sembari menunggu kedatangan alat berat guna melakukan normalisasi Sungai Nek’oni dan Sungai Oelakobis yang kerap meluap ke permukiman warga.

Justus berharap pihak kecamatan dan dinas terkait di Kabupaten Kupang segera merealisasikan penurunan alat berat tersebut agar masyarakat dapat merasa aman dan nyaman selama musim hujan.

Ia juga menekankan pentingnya langkah cepat guna mencegah kerusakan lebih lanjut pada jalan utama aspal penghubung Fatuleu Barat–Amfoang yang berpotensi terkikis akibat luapan air sungai. (IG/TD)

error: Konten dilindungi!