Bahan Lokal MBG Dorong Meningkatkan Ekonomi Masyarakat, Meningkatnya Gizi Anak Warga Manggarai

Kristiani Marsela Lagus, Mahasiswi Agri Bisnis Unika St. Paulus Ruteng. (Foto: Kons Hona).

RUTENG, RANAKANEWS.com – Yayasan Komunitas Rumpun Bambu melalui dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Karot menghadirkan menu lokal bergizi untuk 2.962 siswa di Kecamatan Langke Rembong.

Program ini bukan sekadar pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar.

Kepala SPPG Karot, Yosef Hambur, menegaskan bahwa menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) berbasis hasil perkebunan, peternakan, dan perikanan warga.

“Menu MBG tidak terlepas dari tiga sektor penting itu. Kalau dioptimalkan, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” ujarnya.

Selain melayani siswa dari TK/PAUD hingga SMA/SMK, dapur MBG juga menjangkau 127 ibu hamil, menyusui, dan balita (B3).

Dukungan lintas sektor – kelompok tani, BumDes, peternak, hingga nelayan – menjadi tulang punggung keberhasilan program ini.

Kisah inspiratif datang dari Kristiani Marsela Lagus, mahasiswi Agri Bisnis Unika St. Paulus Ruteng, yang bekerja sebagai relawan dapur untuk membiayai kuliahnya.

“Puji Tuhan, hasil kerja saya bisa membantu biaya kuliah. Saya sangat berterima kasih kepada SPPG Karot,” ungkapnya.

Program MBG Karot membuktikan bahwa pelayanan gizi berbasis lokal mampu menjawab dua hal sekaligus: kesehatan anak dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu:
– Pemerintah daerah perlu memperkuat dukungan regulasi dan anggaran.
– Masyarakat lokal didorong menjadi pemasok aktif kebutuhan dapur MBG.
– Sekolah dan guru diharapkan menjadikan MBG sebagai bagian dari pendidikan gizi.
– Media dan komunitas harus terus mengangkat kisah inspiratif ini agar publik sadar bahwa gizi adalah investasi masa depan. SPPG Karot bukan hanya dapur, melainkan gerakan sosial-ekonomi yang menyehatkan anak-anak sekaligus memberdayakan warga. Manggarai kini punya model nyata bagaimana gizi lokal bisa menjadi motor pembangunan. (KH)

 

error: Konten dilindungi!