RUTENG,RANAKANEWS.com-Penanganan infrastruktur jalan nasional pasca gempa Flores di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur terus digencar.
Sejauh ini dua titik yang menjadi fokus penanganan adalah Jembatan Wae Pesi dan lokasi longsor di STA 29+900.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT.
Penanganan cepat bertujuan memulihkan kondisi infrastruktur terdampak bencana alam guna menjaga kelancaran konektivitas transportasi masyarakat.
Kepala BPJN NTT melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Ruteng, Nur Indah Indriyani,menjelaskan, progres pekerjaan di kedua lokasi menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, percepatan pekerjaan tetap dilakukan agar penyelesaian sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
“Pada titik Jembatan Wae Pesi, progres penanganan telah mencapai 67,08 persen. Pekerjaan difokuskan pada perbaikan dan pemulihan sejumlah komponen jembatan yang terdampak gempa,” ujar Nur, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia menerangkan, ada beberapa item pekerjaan yang dilakukan saat ini, meliputi pengencangan dan penggantian baut, penggantian elastomer, reposisi jembatan, penanganan expansion joint atau sambungan muai, serta patching dan grouting pada struktur beton.
Selain itu, pekerjaan mencakup penanganan pilar, lantai jembatan, dan perbaikan jalan pendekat. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan struktur jembatan kembali berfungsi dengan baik dan dapat menunjang keselamatan pengguna jalan.
Oleh sebab itu, Nur Indah menegaskan, perbaikan jembatan memiliki arti strategis karena ruas Ruteng–Reo–Kedindi merupakan jalur penghubung bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang di wilayah Kabupaten Manggarai.
Karena itu, kualitas pekerjaan dan ketepatan pelaksanaan menjadi perhatian penting agar infrastruktur yang diperbaiki mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Penanganan Longsor 130 Meter
Selain Jembatan Wae Pesi, penanganan juga dilakukan pada titik longsor di STA 29+900. Pada lokasi ini, pekerjaan mencakup penanganan longsor sepanjang kurang lebih 130 meter.
Sejumlah pekerjaan yang dilaksanakan antara lain pemasangan bore pile, pembangunan Dinding Penahan Tanah (DPT) berbahan beton, pemasangan DPT dengan konstruksi batu, pembangunan saluran drainase, serta penanganan badan jalan.
Pemasangan bore pile dan dinding penahan tanah merupakan bagian dari upaya memperkuat struktur tanah dan mengurangi risiko pergerakan tanah pada area yang mengalami longsor. Sementara itu, pembangunan drainase diperlukan untuk membantu mengendalikan aliran air yang berpotensi memengaruhi kestabilan lereng dan badan jalan.
Dengan penanganan tersebut, diharapkan kondisi jalan menjadi lebih stabil dan risiko gangguan lalu lintas akibat kerusakan infrastruktur dapat diminimalkan.
Namun, keberhasilan penanganan longsor tidak hanya ditentukan oleh penyelesaian fisik pekerjaan. Pemeliharaan drainase, pengawasan kondisi lereng, serta evaluasi berkala terhadap titik rawan bencana juga penting untuk menjaga keberlanjutan fungsi jalan.
Target Rampung Desember
Nur Indah Indriyani menjelaskan, progres penanganan longsor di STA 29+900 telah mencapai 18,24 persen. Pihaknya terus mendorong percepatan pekerjaan di kedua lokasi agar target penyelesaian dapat tercapai.
“Progres untuk penanganan Jembatan Wae Pesi adalah 67,08 persen. Lalu kemajuan pekerjaan di STA 29+900 sudah mencapai 18,24 persen. Intinya, pekerjaan dua titik ini harus selesai sebelum tanggal 31 Desember 2026,” ujarnya.
Penanganan pada kedua titik tersebut dilaksanakan secara kontraktual oleh PT Brantas Abipraya berdasarkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
Target penyelesaian sebelum akhir tahun menjadi perhatian penting, mengingat infrastruktur jalan nasional memiliki peran besar dalam mendukung aktivitas ekonomi, pelayanan masyarakat, dan kelancaran distribusi kebutuhan pokok.
Oleh sebab itu, percepatan pekerjaan perlu tetap diimbangi dengan pengawasan terhadap mutu konstruksi, kesesuaian spesifikasi teknis, serta penerapan standar keselamatan kerja.
Akses Tetap Dibuka
Di tengah pelaksanaan pekerjaan, akses kendaraan pada ruas Jalan Nasional Ruteng–Reo–Kedindi tetap dibuka. Menurut Nur Indah, pekerjaan di kedua lokasi tidak menyebabkan penutupan jalan sehingga masyarakat masih dapat melintas.
Kondisi tersebut penting bagi warga yang setiap hari menggunakan jalur RRK untuk menjalankan aktivitas ekonomi, mengangkut hasil pertanian, bepergian antarkecamatan, maupun mengakses berbagai pelayanan publik.
Meski demikian, masyarakat yang melintasi kawasan tersebut diminta tetap berhati-hati. Kondisi cuaca dan potensi longsor perlu menjadi perhatian, terutama ketika hujan turun di wilayah dengan kondisi lereng yang rawan.
Pengguna jalan diimbau mengurangi kecepatan saat mendekati area pekerjaan, memperhatikan rambu-rambu keselamatan, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
“Selama pekerjaan, tidak ada penutupan jalan. Namun, kami selalu mengimbau masyarakat yang hendak melintas di jalur RRK ini untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana longsor,” kata Nur Indah.
Pengawasan dan Kualitas Pekerjaan
Penanganan kerusakan akibat gempa di ruas Jalan Nasional Ruteng–Reo–Kedindi tidak sekadar berkaitan dengan penyelesaian proyek fisik. Lebih dari itu, kata Nur Indah, pekerjaan ini menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan konektivitas wilayah.
Karena itu, BPJN NTT bersama pihak terkait diharapkan memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan, memenuhi spesifikasi teknis, serta mengutamakan kualitas dan keselamatan.
Pengawasan yang konsisten juga diperlukan untuk memastikan penggunaan anggaran sesuai dengan peruntukannya dan hasil pekerjaan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Dengan percepatan yang terukur, pengawasan yang baik, dan komitmen terhadap kualitas konstruksi, penanganan Jembatan Wae Pesi dan longsor di STA 29+900 diharapkan dapat selesai sesuai target.
Masyarakat pun diharapkan dapat kembali menikmati infrastruktur jalan nasional yang lebih aman, andal, dan mampu menunjang mobilitas serta pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Manggarai dan wilayah sekitarnya. (Kons Hona)
