Opini  

Menembus Batas Etika: Ketika Dansa Kijomba Menguji Keadaban Publik dan Batas Tubuh di Pulau Timor

Oleh: Ferdinandus Regenigin Seran

Fenomena maraknya dansa Kijomba (Kizomba) di berbagai pesta rakyat di Pulau Timor mulai dari Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), hingga Kota Kupang telah bergeser dari sekadar persoalan selera seni menjadi isu pelanggaran etika publik yang serius.

Kritik keras yang bermunculan dari para tokoh adat, pemuka agama, hingga orang tua bukan lagi sekadar bentuk resistensi atau penolakan kaku terhadap budaya asing. Lebih dari itu, kegelisahan ini merupakan alarm moral atas merosotnya rasa hormat dan kesopanan komunal yang selama ini menjadi fondasi utama keadaban masyarakat Timor.

Jika dibedah melalui ranah etika filsafat, perdebatan seputar Kijomba menyangkut pelanggaran terhadap batas-batas etis dalam hidup bersama. Filsuf etika asal Prancis, Emmanuel Levinas (1906), menegaskan bahwa etika paling mendasar lahir saat manusia berhadapan langsung dengan “Yang-Lain” (the Other).

Bagi Levinas, kehadiran orang lain di sekitar kita membawa sebuah panggilan dan tuntutan etis yang tak tertulis: sebuah kewajiban moral untuk saling menghormati, menjaga jarak yang santun, serta tidak memaksakan kehendak pribadi yang dapat merendahkan martabat sesama.

Dalam tatanan budaya Timor, prinsip etika Levinas ini tercermin sangat kuat melalui nilai Sika (rasa hormat dan kesopanan). Tubuh manusia di dalam ruang publik Timor tidak pernah dipandang sebagai milik pribadi yang bebas diekspresikan tanpa batas. Tubuh terikat pada jejaring relasi kekerabatan, kehormatan keluarga, dan rasa hormat kepada komunitas.

Masalah etis dari dansa Kijomba timbul ketika tarian berpasangan dengan kontak fisik yang terlampau rapat, intim, dan bernuansa erotis ini dibawakan di tengah-tengah ruang publik komunal seperti pesta pernikahan, syukuran keluarga, atau acara kampung.

Di ruang-ruang ini, hadir berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga tua-tua adat yang sangat dihormati. Masuknya ekspresi keintiman fisik yang menyolok di hadapan umum dianggap mengabaikan rasa tidak nyaman dan ketidaksetujuan orang lain yang berbagi ruang tersebut.

Dalam pandangan Levinas, ketika seseorang memaksakan keintiman pribadinya di hadapan publik yang merasa terganggu, ia sejatinya sedang mengabaikan martabat dan panggilan etis dari sesamanya. Kebebasan individu telah menabrak hak publik untuk mendapatkan ruang bersama yang sopan dan aman.

Meski demikian, menyikapi indikasi pelanggaran etika ini tidak boleh berhenti pada pelabelan amoral yang menghakimi, apalagi pelarangan mutlak yang disertai amarah. Pendekatan yang kaku dan agresif dari generasi tua justru sering kali membuat anak muda merasa tidak dipahami, sehingga memicu perlawanan diam-diam dan semakin menjauhkan mereka dari akar budayanya sendiri.

Saran dan Solusi untuk Generasi Muda Timor

Agar generasi muda tetap dapat menikmati dinamika zaman tanpa kehilangan arah etika dan kehormatan adat, beberapa langkah reflektif berikut dapat menjadi jalan keluar bersama:

Mengasah Keadaban Ruang: Anak muda perlu belajar membedakan antara ruang privat dan ruang publik. Membatasi gerakan yang intim dalam ruang publik pesta kampung bukanlah tanda kekekangan, melainkan bentuk kebiasaan beretika dan tenggang rasa terhadap orang tua serta anak-anak yang menyaksikan.

Menjadikan Nilai Sika sebagai Identitas Diri, Bukan Beban: Nilai Sika (rasa hormat) sebaiknya tidak dipandang sebagai aturan adat yang membosankan, melainkan sebagai karakter utama yang membuat pemuda Timor disegani karena memiliki etika tinggi, keteguhan moral, dan rasa hormat kepada sesama di mana pun berada.

Mendorong Dialog dan Kesepahaman Bersama Tokoh Adat:

Pemuda dan pengurus karang taruna dapat membuka ruang diskusi yang santun dengan para tua-tua adat. Lewat dialog ini, anak muda bisa menyampaikan kebutuhan ruang ekspresi mereka, sementara tokoh adat dapat memberikan batasan-batasan kesopanan yang disepakati bersama agar acara pesta tetap meriah namun tetap bermartabat.

Mengembangkan Kreativitas dan Inkulturasi Seni:

Anak muda dapat menyalurkan bakat seni gerak dan dansa melalui wadah kompetisi resmi atau pertunjukan seni tersendiri yang memang diperuntukkan bagi penikmatnya, tanpa harus memaksakan gaya tarian yang rapat di tengah perayaan sosial yang bersifat umum.

Dansa Kijomba pada akhirnya menjadi cermin dari dinamika sosial masyarakat Timor hari ini. Menjaga etika dan nilai adat di tanah Timor bukanlah upaya untuk mematikan kegembiraan kaum muda, melainkan sebuah alarm bahwa kebebasan berekspresi dan keindahan berpesta akan jauh lebih bernilai ketika berjalan beriringan dengan rasa hormat, keadaban publik, dan etika hidup bersama.

Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version