Ketua Komunitas ( Kulibangdes) Ansel Alaman dan Kadis Pariwisata Kabupaten Manggarai ( Foto: Willy G.)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Komunitas peduli pembangunan Desa KuliBangDes menyelenggarakan Pelatihan Petani Buah Manggarai Raya di Narang pada 27–30 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam mengembangkan budidaya buah berkualitas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi wisatawan sekaligus memperkuat peran masyarakat lokal dalam ekonomi pariwisata.
Pada hari terakhir pelatihan, Jumat (30/10/2026), kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Alo Jebarut, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai kabid penyediaan dan pengembangan sarana produksi pertanian Silvester Hartono, serta Camat Satarmese Barat Yosef Soni. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bentuk dukungan sekaligus kesempatan untuk memberikan motivasi kepada peserta agar terus
mengembangkan potensi pertanian buah di wilayah masing-masing.
Mengusung tema “Kapan Kita Menjadi Tuan atas Ekonomi Pariwisata di Tanah Kita?”, pelatihan ini mendorong petani agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pelaku utama yang mampu mengelola potensi pertanian, memperluas akses pasar, dan memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan pariwisata di Manggarai Raya.
Dalam kegiatan tersebut, Remigius Syukur menjadi salah satu narasumber yang memberikan materi mengenai pengembangan pertanian buah. Peserta dibekali pengetahuan tentang pentingnya menghasilkan buah berkualitas sesuai kebutuhan pasar, termasuk hotel, restoran, dan sektor usaha pariwisata yang melayani wisatawan.
Manggarai Raya memiliki potensi buah lokal yang beragam, seperti mangga, alpukat, pepaya, nangka, durian, rambutan, jeruk, nanas, dan salak. Potensi tersebut dapat menjadi peluang ekonomi bagi petani apabila dikelola secara terencana, didukung teknik budidaya yang tepat, serta dihubungkan dengan kebutuhan pasar.
Namun, pemanfaatan potensi buah lokal masih menghadapi tantangan. Pasokan buah dari luar daerah, produksi yang bergantung pada musim, kualitas yang belum seragam, serta keterbatasan kesinambungan pasokan menjadi persoalan yang perlu diatasi bersama.
Karena itu, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada cara menanam, tetapi juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan konsumen dan membangun sistem produksi yang mampu menjamin kualitas serta ketersediaan buah secara berkelanjutan.
Petani dibekali keterampilan budidaya buah
Selama pelatihan, peserta mempelajari berbagai aspek teknis pertanian, mulai dari persiapan dan pengolahan lahan, pemeriksaan kesuburan tanah, pemilihan benih, pengukuran pH tanah, pembuatan bedengan, penggunaan mulsa, pemupukan, penyiraman, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Peserta juga memperoleh pengalaman praktik lapangan untuk memahami tahapan budidaya secara langsung. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan di kebun masing-masing sehingga petani mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga mutu hasil panen.
Pemeriksaan kondisi tanah menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan. Petani didorong memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada benih dan pupuk, tetapi juga pada kondisi tanah, ketersediaan air, kesesuaian tanaman dengan lingkungan, dan perawatan berkelanjutan.
Selain itu, pengetahuan tentang pengendalian hama dan penyakit dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen serta meningkatkan kualitas produksi.
Kebun percontohan semangka dan melon
Sebagai tindak lanjut pelatihan, peserta mulai merencanakan pengembangan kebun percontohan yang berfokus pada tanaman semangka dan melon.
Salah seorang peserta menyampaikan bahwa lahan berukuran sekitar 25 x 100 meter telah disiapkan untuk mendukung kegiatan tersebut. Penanaman akan dilakukan setelah kondisi lahan memungkinkan untuk diolah secara optimal.
Kondisi tanah yang masih keras menjadi salah satu kendala yang perlu diatasi sebelum penanaman dimulai. Karena itu, persiapan lahan dan penerapan teknik budidaya yang sesuai menjadi langkah penting dalam pengembangan kebun tersebut.
Peserta juga telah berkomunikasi dengan pastor paroki untuk memanfaatkan lahan di sekitar lingkungan paroki sebagai tempat pembelajaran pertanian bagi umat.
Kebun percontohan diharapkan menjadi sarana praktik bersama, tempat petani mempelajari perkembangan tanaman, berbagi pengalaman, dan mengevaluasi teknik budidaya yang diterapkan.
Pengembangan semangka dan melon juga diharapkan dapat memperluas pilihan komoditas buah lokal yang berpotensi dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata.
Dorong regenerasi petani dan pembentukan JaKomTabu
Pelatihan ini turut menekankan pentingnya regenerasi petani melalui keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian buah.
Salah seorang peserta berusia 58 tahun mengungkapkan komitmennya untuk mendampingi empat petani muda berusia sekitar 25–35 tahun agar dapat melanjutkan pengembangan usaha pertanian setelah kegiatan berakhir.
Komitmen tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberlanjutan kegiatan sekaligus mendorong generasi muda melihat pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Selain regenerasi, pembentukan Jejaring Komunitas Tani Buah (JaKomTabu) menjadi bagian penting dari upaya memperkuat posisi petani dalam rantai pemasaran.
Melalui JaKomTabu, petani diharapkan dapat membangun kerja sama dengan BUMDes, koperasi, pemerintah, dan pelaku industri pariwisata. Jejaring ini juga diharapkan membuka akses pasar, memperjuangkan harga yang adil, serta membantu petani memenuhi kebutuhan pembeli secara lebih terorganisasi.
Dengan sistem kerja sama yang kuat, petani tidak harus memasarkan hasil panen secara sendiri-sendiri. Mereka dapat merencanakan produksi, menjaga kualitas, dan mengatur pasokan sesuai kebutuhan pasar.
Sinergi pemerintah dan petani untuk ekonomi pariwisata
Kehadiran unsur pemerintah daerah pada penutupan pelatihan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata.
Pengembangan pertanian buah membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pendampingan teknis budidaya, peningkatan kualitas hasil panen, pengembangan usaha kelompok, hingga pembukaan akses pemasaran.
Di sisi lain, sektor pariwisata membutuhkan pasokan buah yang berkualitas dan berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi wisatawan. Kondisi ini membuka peluang bagi petani lokal untuk mengambil bagian lebih besar dalam rantai pasok pariwisata.
Melalui kerja sama antara petani, pemerintah, kelompok masyarakat, dan pelaku usaha pariwisata, potensi buah lokal Manggarai Raya diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing.
Pelatihan Petani Buah Manggarai Raya di Narang menegaskan pentingnya menjadikan pertanian sebagai bagian strategis dari pengembangan ekonomi pariwisata.
Petani tidak cukup hanya mampu menanam dan memanen. Mereka juga perlu memahami kebutuhan pasar, menjaga mutu produk, membangun jaringan pemasaran, serta memastikan hasil pertanian memberikan nilai ekonomi yang layak bagi keluarga.
Melalui pelatihan yang diselenggarakan KuliBangDes ini, peserta diharapkan melanjutkan praktik di kebun, mencatat perkembangan tanaman, melakukan evaluasi, dan membangun kerja sama di tingkat kelompok maupun komunitas.
Dengan pendampingan berkelanjutan, penguatan JaKomTabu, serta dukungan pemerintah dan pelaku usaha pariwisata, potensi buah lokal diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Manggarai Raya.
Pesan utama kegiatan ini adalah petani harus menjadi subjek sekaligus tuan atas ekonomi pariwisata di tanah sendiri. Petani bukan sekadar penonton atau pemasok bahan baku, melainkan pelaku penting yang mampu menghasilkan produk berkualitas, memperluas akses pasar, meningkatkan nilai tambah, dan menikmati manfaat pertumbuhan pariwisata secara lebih adil.(WG)
