Potensi Masyarakat Lokal Dalam Pengembangan Ekowisata di Sumba Barat

Oleh: Melkianus Pote Hadi

Secara sederhana, pariwisata dapat diartikan sebagai suatu (kegiatan) perjalanan seseorang dari tempat asalnya ke suatu tempat atau lingkungan yang berbeda dengan kondisi lingkungan asalnya untuk suatu tujuan tertentu seperti rekreasi, bisnis, silaturahmi atau kunjungan keluarga atau tujuan lainnya, yang memerlukan waktu lebih dari 24 jam, serta memanfaatkan unsur-unsur pendukung atau fasilitas penunjang kepariwisataan misalnya: transportasi, akomodasi, rumah makan, hiburan, dan lainnya.

Dalam UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, pariwisata didefinisikan sebagai berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.

Dalam perkembangannya, ada beberapa komponen yang mempengaruhi pariwisata.  Pasar wisatawan, baik itu domestik atau pun lokal memiliki penghubung dengan masyarakat lokal yakni sumber daya lingkungan alam dan  sosial budaya.

Sumber daya lingkungan alam dan sosial budaya akan menjadi penghubung yang baik ketika didukung oleh atraksi dan kegiatan wisata, transportasi, akomodasi, infrastruktur, fasilitas pendukung wisata lainnya serta unsur institusi atau kelembagaan dan SDM.

Seiring waktu berjalan pariwisata juga mengalami perubahan permintaan pasar yang disesuaikan dengan keinginan wisatawan yang hendak berkunjung.

Beberapa perubahan ini antara lain tumbuhnya gaya hidup hijau, dan tendensi perubahan dari “general atau common interest touris “ke arah” special interest tourism”.

Misalnya 83% wisatawan Inggris ingin agar liburannya tidak merusak lingkungan, di Jerman 65% pelancong mengharapkan kualitas lingkungan, beberapa turis Amerika Serikat dan  Australia menganggap seharusnya hotel memiliki kebijakan dalam perlindungan lingkungan dan dukungan ke penduduk lokal.

Perubahan ini menegaskan bahwa lingkungan yang asri serta berbagai potensi lokal adalah hal yang menarik bagi wisatawan. Untuk menjawab perubahan tersebut, konsep pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab adalah sebuah solusi.

Pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism merupakan pariwisata yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka (Weaver, 2001).

Pariwisata bertanggung jawab atau responsible tourism adalah pariwisata yang mempertimbangkan dan mengurangi dampak negatif kegiatannya bagi lingkungan alam dan budaya di sekitarnya.

Ekowisata/ecotourism adalah salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Proses memanjakan wisatawan namun tidak memberikan dampak negatif kepada lingkungan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan pada satu wilayah tertentu itulah Ekowisata.

Ekowisata akhirnya menjadi pilihan tepat untuk membangun sektor ekonomi tanpa mengesampingkan daya tampung dan dukung lingkungan.

Dengan kata lain melalui pengembangan ekowisata kita telah mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan sebagai sumber pendapatan. Ini menjadi strategi tepat karena dari proses dapat kita lihat terjadi saling membutuhkan antara masyarakat dan lingkungan.

Pemerintah Sumba Barat secara serius mendorong aspek pariwisata, sehingga perlu analisis SWOT agar dapat mengevaluasi secara baik.

Dalam konteks Sumba khususnya Sumba Barat seperti yang kita ketahui, Sumba Barat memiliki banyak objek wisata misalnya pantai, air terjun, budaya dan masih banyak objek menarik lainnya.

Hal ini menunjukkan pengembangan wisata dengan pendekatan ekowisata akan menjadi sektor yang sangat menjanjikan. Promosi wisata Sumba juga terlihat semakin gencar dilakukan dan hal ini tentu saja akan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan. Untuk mendukung proses tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang mendukung.

Selain itu, Kita pun berharap Pemerintah, Pemuda serta Stakeholder

Kita berjuang bersama dalam upaya meningkatakan pendapatan kepariwisataan, adapun pemerintah telah berupaya membuat regulasi tentang hal tersebut salah satunya adalah regulasi tentang Desa Wisata, yang tentunya bisa meningkatkan pendapatan Daerah.

Tak hanya meningkatkan pendapatan daerah ada banyak manfaat yang bisa didapat dari adanya pembangunan  wisata. Yakni aspek ekonomi, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek budaya, meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

Kedua masyarakat bisa menjual produk olahan atau souvenier, dapat meningkatakan PAD (Pendapatan Asli Daerah), membuka lapangan kerja sebagai ojek, gudlide dan juru foto, dari aspek sosial yakni meningkatakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, memberdayakan masyakat dan meningkatkan kepedulian masyarakat.

Dari aspek lingkungan sendiri diantaranya yakni:

Pertama meningkatkan kepedulian masyarakat untuk peduli pada kebersihan diri sendiri,

Kedua terciptanya lingkungan yang lebih asri.

Ketiga maraknya kegiatan lingkungan, sumber air terlindungi, terpeliharanya ekosistem, pengelolahan sampah yang baik dan sanitasi yang layak.

Pemda perlu dukung beberapa Desa Wisata karena banyak aspek budaya yakni terjaganya kelestarian budaya, meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga seni budaya sebagai bagian dari sosial heritage dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan seni budaya.

Namun jangan lupa bahwa arus pariwisata global mengarah pada tren baru pariwisata pedesaan dimana wisatawan datang dalam kelompok-kelompok kecil dan berinteraksi intensif, mempelajari kehidupan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan penduduk desa.

Pariwisata model ini rentan menyebabkan perubahan sosial budaya di masyarakat jika pengelolaannya tidak direncanakan secara matang.

Selain ada rentan ada perubahan pada masyarakat lokal tapi pariwisata berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan dapat menekan angka kemiskinan.

Pariwisata juga salah satu sektor yang paling pesat pertumbuhannya dan telah menyumbang sebesar 9,1 persen dari PDB, sektor pariwisata juga menjadi salah satu sektor yang menjadi fokus pemerintah pusat dalam pembentukan core economy dengan program pariwisata super prioritas, hal ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki pengaruh dan dampak yang baik dalam menumbuhkan perekonomian dan pengembangan wilayah.

Menyambut hal itu maka sesuai UU No. 40 Tahun 2009 Pasal 6 tetang pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agent perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Sehinga Butuh Partisipasi pemuda dalam Pengembangan berkontribusi terhadap ketahanan sosial budaya berdasarkan parameter asas kemitraan, kesejahteraan, perlindungan, kemandirian, kerukunan, nilai sosial dan budaya lokal.

Ketahanan sosial budaya terbentuk melalui pelestarian sosial budaya secara dinamis dengan melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan sosial-budaya lokal melalui aktivitas pariwisata.

Peran Pemuda sangat penting untuk pembangunan termasuk pengembangan pariwisata. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa Pemuda sangat berperan dalam pembentukan Negara Kesatuan sejak awal. Olehnya itu, peran Pemuda harus terus diberdayakan untuk memajukan berbagai sendi perekonomian masyarakat.

Dalam pengembangan pariwisata pemuda harus terlibat dalam memajukan budayanya yang sungguh unik di mata dunia. Salah satu contoh, mereka setidaknya pandai menguasai bahasa asing.

Bagaimana memberikan pelayanan dan informasi yang baik kepada para wisatawan jikalau warga terutama pemuda tidak fasih berbahasa Inggris atau berbahasa asing.

Selain bahasa, pemuda juga diharapkan mempunyai wawasan yang luas tentang kepariwisataan itu sendiri dengan terampil dan mampu mengakses informasi dari berbagai media sosial maupun informasi langsung. Pariwisata Sumba barat,  cukup di kenal nasional dan internasional,  promosi pariwisatapun  mesti memanfaatkan media sosial. Dengan memposting obyek-obyek wisata di Sumba Barat,  pariwisata di sana akan muncul secara digital.

Salah satu cara untuk meningkatkan pariwisata di daerah ialah meningkatkan sumber daya masyarakat disekitar objek wisata. Dalam hal ini khususnya generasi muda. Sebab, generasi muda merupakan regenerasi bagi budaya yang ada.

Jika tidak memberikan pengetahuan dan pemahaman akan kebudayaan kepada generasi muda, maka lambat laun, tapi pasti kebudayaan tradisional akan punah dengan sendirinya. Tentu saja, hal tersebut sangat tidak diharapkan. Sebab kebudayaan merupakan warisan leluhur yang patut dilestarikan.

Dengan melibatkan generasi muda, sudah bisa dipastikan bahwa kebudayaan yang luar biasa, milik bangsa ini bisa lestari. Selain itu, generasi muda menjadi generasi yang mandiri, memiliki pemikiran yang positif, dan mencintai budayanya sendiri.

Jadi, dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menunjukan jati diri sebagai bagian dari bangsa ini, merupakan hal yang sudah sepatutnya dilakukan.

Tentu saja hal tersebut harus dilakukan dengan sepenuhnya dan dirancang sedemikian rupa. Namun, semua itu dapat terwujud melalui peran konkrit dari pemerintah terkait. Sehingga, apa yang menjadi tujuan bangsa ini yaitu menyelamatkan kebudayaan lewat peran pemuda dapat terwujud.

Penulis: Dosen pada salah satu Universitas Swasta di Kota Kupang- NTT

error: Konten dilindungi!