Opini  

Membangun Dialog kasih Persaudaraan di NTT: Dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

Oleh: Yohanes Malik

Masyarakat Nusa tenggara Timur merupakan masyarakat yang plural, terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama. Dalam dinamika kehidupan yang beragam ini, Masyarakat sering kali memandang sesama dengan kacamata latar belakang budaya, suku dan agama yang dianut. maka tidak dipungkiri bahwa sering kali terjadi kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat yang baik. Kesenjangan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, dalam beberapa tahun terakhir ini.

Hal demikian bukan soal konflik peran antara suku atau diskriminasi antara agama mayoritas dan minoritas, tetapi masyarakat belum memahami makna persaudaraan yang sebenarnya. Bisa saja pengetahuan masyarakat tentang toleransi masih dangkal dimana toleransi sering kali dipahami sebatas pada menghargai sesama. Yang mana masyarakat yang berbeda kepercayaan atau agama dengan memberi ruang dan hidup untuk menjalankan ibadah atau kewajiban sesuai ajaran dan kepercayaan agama mereka.

Persaudaraan sejati pada hakikatnya adalah mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sesamanya baik sukses, gagal, sakit, sehat, susah, senang, bahagia, sedih. Hal inilah yang belum dihidupi oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Maka Ensiklik Fratelli Tutti yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus merupakan jawaban yang tepat. Dalam ensiklik Fratelli Tutti paus Fransiskus menekankan persaudaraan universal yakni persaudaraan yang tidak dibatasi oleh suku, ras, budaya, dan agama. Tetapi memandang setiap pribadi sebagai saudara dan saudari.

Memandang setiap pribadi sebagai sesama inilah, Yang akan membuat kita masyarakat Nusa Tenggara Timur memahami hakikat dari persaudaraan yang sejati. Maka kesenjangan sebagai masyarakat yang hidup dalam pluralisme tidak terjadi. Sebagaimana ketika ada sesama teman yang beragama muslim sakit dan tetangganya yang Kristen pergi mengatarnya ke rumah sakit dan mengunjunginya. Ini merupakan contoh sederhana dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Maka sesama saudara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seorang individu yang hidup dalam suatu komunitas.

Persaudaraan sejati menjadi bagian integral dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dengan sendirinya dialog antara pribadi yang berbeda secara cultur, etnis, suku dan agama dapat berjalan dengan harmonis hingga pada akhirnya menjadi dialog kehidupan. Hal inilah yang harus menjadi landasan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur sebagai masyarakat heterogen. Dialog bukan berarti membatasi diri pada komunikasi verbal, tetapi harus sampai pada tindakan. Maka kepedulian kepada sesama merupakan bagian utuh yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti memberi cara dialog yang sangat radikal. Persaudaraan yang berani menyentuh sesama yang dalam keadaan tidak berdaya, dengan mengutip teks Lukas 10: 25-37 tentang seorang Samaria yang murah hati. Meskipun secara kehidupan sosial kemasyarakatan orang Samaria mendapat stikma buruk dari orang Yahudi, tetapi Ia tetap menolong orang itu hingga kembali sehat. Hal ini bukan perbedaan atau cultur yang menjadi tolak ukur, tetapi kemanusiaanlah yang menjadi landasan dari tindakan orang Samaria ini. Maka sudah sewajarnya sebagai Masyarakat Nusa Tenggara Timur memiliki cara pandang orang Samaria ini dalam berinteraksi dengan sesama.

Dialog yang dinyatakan dalam tindakan menggambarkan pribadi seseorang. Kepribadian seorang toleran sejati akan selalu mampu menerobos sekat baik budaya maupun agama dalam melakukan perbuatan kasih. Dimana kasih sejati lahir dari pengorbanan diri yang total. Maka dialog persaudaraan juga harus mampu memaknai kasih dalam dinamika kehidupan sebagai satu kesatuan utuh dari kehidupan sebagai saudara. Dengan demikian pola dialog yang dibangun akan terealisasi dalam lingkungan hidup kita.

Keberagaman yang terjadi di Nusa Tenggara Timur ini tidak menjadi pembatas pergerakan dinamika kehidupan masyarakat melainkan merupakan jembatan menuju pemahaman yang mendalam mengenai makna saudara melalui pola dialog persaudaraan yang radikal. Yakni selalu mencerminkan wajah kasih, toleransi sejati. Maka sejatinya dalam kehidupan yang Plural seperti masyarakat Nusa Tenggara Timur, nilai kasih persaudaraan merupakan bagian hakiki dari kehidupan setiap pribadi.

Pengorbanan merupakan bukti dari kasih sebagai bentuk nyata dalam realitas kebersamaan. Dengan sendirinya keharmonisan dan kedamaian akan terwujud dalam kehidupan bermasyarakat di Nusa Tenggara Timur ini dan sebagai mana dikenal dengan sebutan nusa toleransi.

Penulis:  Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas katolik Widya Mandira kupang. 

error: Konten dilindungi!