Kongres PMKRI di Ruteng dan Jejak Kebangsaan Ben Mboi

oleh; Willy Grasias

RUTENG, RANAKANEWS.com – Penyelenggaraan Kongres XXXIV PMKRI di Ruteng bukan sekadar agenda organisasi mahasiswa. Forum nasional ini juga menghidupkan kembali jejak sejarah salah satu kader terbaik PMKRI, dr. Ben Mboi, putra Manggarai yang kemudian dikenal sebagai dokter, prajurit, pamong praja, dan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Dalam buku Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja, Ben Mboi menceritakan bahwa kiprah kebangsaannya mulai ditempa ketika aktif di PMKRI pada pertengahan 1950-an.

Pada 1956, ia mengikuti masa pengenalan anggota sebagai introducé atau verplichte kennismaker (VK). Sejak itu, ia lebih aktif di PMKRI dibanding organisasi mahasiswa lainnya. PMKRI saat itu tidak hanya menjadi ruang diskusi intelektual melalui ceramah tokoh-tokoh nasional, tetapi juga memiliki kegiatan sosial yang mempererat persaudaraan antarmahasiswa.

Ujian kepemimpinannya datang pada 1957–1958 ketika PMKRI Cabang Santo Bellarminus dilanda krisis internal. Perdebatan mengenai penggunaan Wisma Margasiswa untuk kegiatan dansa memecah organisasi menjadi dua kubu. Dalam situasi tersebut, Ben Mboi dipercaya menjadi ketua ad interim karena dianggap berada di posisi netral. Pengalaman itu menjadi pelajaran awal baginya dalam mengelola konflik dan membangun konsensus.

Di PMKRI pula Ben Mboi berkenalan dengan tokoh nasional Mohammad Yamin yang kerap memberikan ceramah mengenai pendidikan nasional. Yamin menekankan pentingnya pendidikan yang patriotik dan pernah mengkritik sistem pendidikan tinggi dengan analogi bahwa proses seleksi mahasiswa “seperti menyaring air Sungai Citarum di muaranya di Laut Jawa”, sebagai kritik terhadap pembinaan pendidikan yang terlambat dilakukan.

Pengalaman Ben Mboi semakin luas ketika pada 1957 ia mewakili PMKRI dalam Badan Kerja Sama Pemuda-Militer (BKSPM) yang dibentuk Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung perjuangan pembebasan Irian Barat.

Di forum tersebut, ia berdialog dengan berbagai organisasi kepemudaan dari latar belakang Katolik, Islam, nasionalis, hingga kelompok kiri. Perjumpaan lintas ideologi itu memperkaya cara pandangnya tentang pentingnya persatuan bangsa di tengah perbedaan.

Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa PMKRI pada masa itu bukan hanya organisasi kemahasiswaan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan.

Karena itu, penyelenggaraan Kongres XXXIV PMKRI di Ruteng memiliki makna historis yang kuat. Ruteng merupakan tanah kelahiran Ben Mboi, salah satu tokoh nasional yang ditempa melalui proses kaderisasi PMKRI sebelum mengabdikan diri bagi bangsa dan negara.

Perlu dicatat, berdasarkan sejarah organisasi, Ben Mboi memang pernah menjadi salah satu pimpinan nasional PMKRI pada akhir 1950-an. Namun, penyebutan bahwa ia menjadi presidium “dua tahun setelah kemerdekaan” kurang tepat secara kronologis. Aktivitas kepemimpinan Ben Mboi di PMKRI berlangsung sekitar satu dekade setelah Proklamasi Kemerdekaan, seiring masa kuliahnya di Universitas Indonesia.

Di tengah dinamika Indonesia saat ini, kisah Ben Mboi menjadi pengingat bahwa kaderisasi PMKRI tidak hanya melahirkan pemimpin organisasi, tetapi juga tokoh-tokoh yang berkiprah dalam pelayanan publik dan memperjuangkan kepentingan bangsa.

Kongres di Ruteng pun menjadi momentum untuk meneruskan semangat tersebut: membangun kepemimpinan yang berintegritas, terbuka pada dialog, dan berakar pada semangat persatuan Indonesia.

Penulis Wartawan ranakanews.com tinggal di Ruteng

error: Konten dilindungi!