Opini  

Menolak Korupsi dengan Warisan Sang Mercusuar Gereja

Oleh: Melikheor Januar Rolys Blau

Basilius Agung adalah salah satu Pujangga Gereja yang sangat penting pada abad ke-4. Ia adalah seorang Uskup Kaisarea di Kapadokia, Turki. Ia begitu dihormati dalam Gereja karena kontribusinya yang sangat signifikan dalam karya monastik, pelayanan sosial, dan peran apologetiknya melawan bidaah Arianisme.

Dalam naskah liturgi Bizantium, Santo Basilius dilukiskan sebagai luminary of the Church yang artinya adalah mercusuar atau pelita Gereja. Nomenklatur ini disematkan padanya bukan karena tanpa alasan, melainkan karena perannya dalam liturgi Byzantium.

Ia merupakan tokoh utama yang menyusun Liturgi Ilahi yang masih dirayakan oleh Gereja Ortodoks sampai saat ini. Ia juga sangat disegani karena keteguhannya dalam membela doktrin Gereja yang berkaitan dengan Tritunggal Mahakudus.

Ia juga merupakan tokoh yang merumuskan Doa Anaphora yang diakui secara luas sebagai rumusan doa yang sangat indah dan puitis. Tidak heran jika Gereja menaruh penghormatan besar pada tokoh Santo Basilius Agung ini dan menyandangkan gelar kepadanya sebagai Sang Mercusuar Gereja.

Ajaran sosial dan relevansinya di era kontemporer

Warisan ajaran sosial dari Basilius dapat menjadi prinsip dasar yang esensial dalam mengkritisi fenomena praktik korupsi yang kian marak di zaman sekarang ini. Ia mengkritisi adanya kesenjangan ekstrem antara yang kaya dan yang miskin. Sering kali yang kaya menjadi serakah dan mudah dibutakan oleh ketamakan dan ambisi untuk terus mengambil lebih dari yang seharusnya. Imbasnya adalah yang miskin tidak hanya semakin miskin, malah mereka terus dirampas dan dijajah.

Santo Basilius dalam ajaran sosialnya mengajarkan bahwa kekayaan bukan merupakan hak pribadi secara mutlak, melainkan titipan Tuhan yang harus dibagikan kepada orang lain. Artinya bahwa setiap orang tentunya berhak untuk memiliki sesuatu, tetapi jika ia memiliki sesuatu yang berlebihan dan menimbunnya untuk diri sendiri, artinya dia sedang mencuri bagiannya orang miskin. Ajarannya ini menjadi standar moral dalam kehidupan sosial dengan pendekatan teologis, yang mengajarkan setiap orang untuk tidak bersikap serakah dan apatis pada realitas zaman ini.

Logika dari Santo Basilius dari abad ke-4 ini masih sangat relevan dengan realitas pahit yang kita alami pada situasi sekarang. Kasus korupsi terus bermunculan dengan jumlah dana fantastis hingga saat ini. Tercatat pada bulan Oktober 2026, terdapat beberapa kasus korupsi seperti pengoperasian pesawat fiktif PT Angkasa Pura Kargo, hingga yang terbaru adalah kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa terkait Dana Siap Pakai (DSP) kebencanaan di BNPB.

Imbasnya, masyarakat tidak hanya berada pada titik lelah akibat rentetan kasus korupsi yang tiada habisnya, melainkan juga telah melangkah jauh ke dalam krisis kepercayaan yang akut pada akuntabilitas publik. Para penguasa yang kerap kali melakukan perampasan secara sistematis dan dalam skala yang besar ini telah melukai dan merugikan masyarakat. Mereka terus menimbun kekayaan di lumbung mereka tanpa memperdulikan masyarakat kecil yang mengalami kesusahan, bahkan sekedar untuk mengisi lambung sehari-hari.

Praktik korupsi oleh para penguasa ini merupakan salah satu bentuk immoralitas yang sangat dikecam oleh Basilius sendiri. Ia mengajarkan bahwa menimbun kekayaan untuk hak pribadi sambil membiarkan orang lain menderita kelaparan adalah dosa sosial terbesar. Ajaran yang dikeluarkan sebagai tanggapan atas fenomena ketidakadilan sosial abad ke-4 ini, hendaknya dengan sangat keras dikumandangkan lagi di konteks saat ini

Zaman terus berubah dan teknologi berkembang pesat, tetapi tantangan yang kita alami masih hal yang sama, bahkan menjelma dalam bentuk yang lebih parah dan mungkin lebih canggih.

Ancaman nyata dari kasus korupsi yang terstruktur, keserakahan penguasa, dan ketidakadilan sosial akan terus membentang dan memperlebar jurang kemiskinan negara ini. Bahaya oligarki modern tidak hanya akan merebut uang negara dan kekayaan alam, melainkan memperalat sistem birokrasi demi kepentingan pribadi.

Beranjak dari realitas getir ini, ajaran dan keteladanan dari Santo Basilius Agung menjadi acuan untuk bersaksi dan beraksi. Basilius menganjurkan setiap orang untuk tidak tinggal diam pada ketidakadilan sosial, melainkan menjadi garda utama yang memperjuangkan keadilan, kebenaran, pencegahan korupsi, dan menjunjung tinggi nilai moral dan rasa kemanusiaan.

Santo Basilius bukan saja seorang pengkhotbah yang ulung, ia juga mewariskan tindakan konkret yang menjadi teladan bagi banyak orang. Ia pernah mendirikan Basiliad yaitu sebuah kota yang dilengkapi dengan rumah sakit dan sekolah gratis untuk menghentikan eksploitasi kaum kaya pada kaum miskin.

Hal ini menjadi teladan bagi kita untuk memutus rantai korupsi, yakni dengan cara bersikap kritis terhadap semua kebijakan publik dan anggaran negara, tidak apatis dan berani bersuara, dan memperkaya diri dengan pengetahuan dan karakter yang dibutuhkan.

Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version