Oleh : Hironimus Primo Kutiom
Pada hakikatnya manusia diciptakan dari segi peran dan fungsional yakni vertikal dan horizontal. Secara vertikal manusia memiliki keterikatan dengan yang tertinggi yakni Tuhan. Selain itu, secara manusiawi, manusia juga diikat dengan otoritas tertentu yang memiliki keteraturan dalam satu sistem ikatan yang kuat.
Namun jika dilihat secara horizontal, manusia itu berada pada posisi yang sama dengan Gereja atau yang lebih tepat adalah secara teologis, manusia adalah gambar dan citra Allah atau imago Dei. Di sisi lain, secara tatanan sosial masyarakat, manusia itu berada pada kelas yang sama yang ditinjau lebih lanjut secara filosofis adalah makhluk yang berakal budi atau memiliki kemampuan yang sama dengan manusia lainnya.
Teologi feminis melihat persoalan ketidaksetaraan ini dan mengangkatnya sebagai satu persoalan yang urgen. Sebab, dimana martabat perempuan direndahkan dalam budaya sosial terutama dalam tatanan patriarki. Teologi feminis adalah ajaran dan refleksi mendalam gereja mengenai persoalan perempuan yang sangat urgen yang perlu ditinjau lebih dalam dari fenomena-fenomena ketidakadilan sosial masyarakat. Pada saat itu pula muncul satu gerakan yang besar-besaran oleh Gereja. Terutama terhadap umat dalam tatanan sosial masyarakat yang tidak terlepas dari spirit sebagai orang beriman.
Perempuan dalam masyarakat dan Gereja secara tatanan sosial mengalami satu penindasan. Dimana laki-laki lebih mendominasi kekuasannya dalam dunia sosial. Dan budaya partiarki mengalami nilai yang lebih tinggi dari perempuan. Mala bisa diartikan bahw setiap manusia yang lahir sebagai perempuan itu adalah manusia yang tidak layak untuk hidup.
Perempuan dipandang hanya hidup sebagai pelengkap untuk kaum laki-laki dalam masyarakat dan hadir sebagai pelayan dalam rumah tangga. Mereka juga dipandang sebagai figur sosial yang tampil di dunia publik untuk melayani sebagai abdi yang penuh kewibawaan. Tak sebatas itu, mereka hanya sebagai pelengkap karena status sosial yang rendah di dunia publik sehingga menimbulkan kerugian bagi kaum perempuan.
Kehadiran teologi feminis karena lahir dari refleksi sosial Gereja yang panjang dan mendalam terhadap perempuan diluar Gereja sebagai masyarakat. Akan tetapi, dalam Gereja pula sering terjadi penindasan terhadap perempuan sehingga dari butir-butir refleksi itu melahirkan satu aliran ajaran teologi feminis. Tujuannya untuk membelah hak dan martabat perempuan.
Selain itu mereka juga bisa mendapatkan pengakuan dari dunia sosial masyarakat. Terutama untuk menyetarakan antara budaya patriarki dan budaya matrilineal bahwa keduanya tidak ada perbedaan, tetapi punya kesempatan dan fungsi yang sama dalam masyarakat, budaya dan agama. Serta budaya patriarki tidak menggunakan topeng kekuasaan untuk mendominasi hingga menjajah perempuan pada dunia masyarakat.
Secara teologis perempuan dan laki-laki diciptakan oleh Allah sebagai pasangan yang sempurna. Namun untuk mencapai kesempurnaan itu mereka harus saling melengkapi satu Sama lain. Sehingga teologi feminis menegaskan pola pikir yang sudah merendahkan perempuan pada struktur sosial yang kemudian muncul satu istilah kepemimpin bahwa apabila seorang pemimpin adalah perempuan maka dengan sendirina struktur yang akan dipimpin tidak efektif.
Atau dengan istilah lain bahwa apabila seorang pemimpin adalah perempuan maka perempuan diujung pena atau perempuan hanya sebagai formalitas pada ruang publik. Namun pemeran sebenarnya dibalik semuanya itu Ada kaum laki-laki yang sementara mengendalikan sistem kepemimpinan.
Kebenaran teologi feminis adalah kebenaran mutlak dan lahirnya teologi feminis ini dari refleksi atas realitas penindasan terhadap kaum perempuan. Maka ketika hadirnya ajaran teologi feminis ini bisa mengupas persoalan penindasan dan stigma yang sedang dijunjung oleh perempuan pada dunia tatanan sosial.
Tak hanya itu, tetapi juga bisa menggangkat martabat perempuan pada kelas yang sama dengan kaum patriarki secara keseluruhan. Dari sinilah titik terang tentang kebenaran dan keadilan yang diperjuangkan dan ditekankan pada setiap umat manusia. Dimana yang dalam dirinya harus ada kebebasan dan keadilan yang diperoleh. Teologi feminis adalah teologi pembelah kaum perempuan yang dengan kekuatan akan menemukan jalan terang bagi semua perempuan yang mengalami penindasan.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.










