Unika Santu Paulus Ruteng Kukuhkan Dua Guru Besar: Prof. Maksimus Regus dan Prof. Sabina Ndiung

Prof. Dr. Maksimus Regus dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme, serta Prof. Dr. Sabina Ndiung dalam bidang Pendidikan Matematika, khususnya Asesmen Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. (Foto: Selvianus Elvis)

RUTENG, RANAKANEWS.com — Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng mengukuhkan dua Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung di Aula Gedung Utama Timur (GUT) Lantai 5 kampus, Jumat (08/05/2026).

Pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam penguatan kapasitas akademik dan pengembangan tradisi keilmuan di lingkungan perguruan tinggi tersebut.

Dua akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Maksimus Regus dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme, serta Prof. Dr. Sabina Ndiung dalam bidang Pendidikan Matematika, khususnya Asesmen Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.

Pengangkatan keduanya merujuk pada Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1767/M/KPT.KP/2026 dan Nomor 1766/M/KPT.KP/2026, dengan jabatan Guru Besar terhitung mulai 1 Januari 2026.

Acara pengukuhan berlangsung dalam suasana akademik yang khidmat, dihadiri oleh pimpinan universitas, senat akademik, sivitas akademika, tokoh gereja, serta tamu undangan dari berbagai institusi pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Penguatan Peran Guru Besar dalam Dunia Akademik
Dalam sambutan institusi, pengukuhan Guru Besar dipandang sebagai bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, membangun nalar publik, serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan masyarakat.

Guru Besar tidak hanya diposisikan sebagai jabatan akademik tertinggi, tetapi juga sebagai penjaga etika keilmuan, pengarah diskursus ilmiah, dan pengembang pemikiran kritis dalam menjawab tantangan zaman.

Orasi Ilmiah Prof. Maksimus Regus: Agama dan Krisis Peradaban
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Menuju Kajian Trans-Sosiologis”, Prof. Maksimus Regus menyoroti perubahan besar dalam struktur kehidupan global yang ditandai oleh krisis ekologis, kemajuan teknologi, dan dominasi sistem ekonomi global.

Ia menegaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak dapat dipahami sebagai persoalan teknis semata, tetapi sebagai bagian dari krisis peradaban yang lebih luas, yang mencakup dimensi moral, sosial, dan spiritual manusia.

Beberapa pokok pemikiran yang disampaikan dalam orasi tersebut antara lain:
1. Krisis Ekologis sebagai Krisis Peradaban
Kerusakan lingkungan global mencerminkan kegagalan sistemik dalam relasi manusia dengan alam, yang dipengaruhi oleh pola produksi dan konsumsi yang eksploitatif.
2. Dominasi Teknologi dan Algoritma
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan tidak hanya mengubah cara hidup manusia, tetapi juga membentuk preferensi, perilaku, dan cara berpikir masyarakat modern.
3. Kapitalisme dan Reduksi Nilai Manusia
Sistem ekonomi global dinilai telah melampaui fungsi ekonominya dan membentuk cara manusia memaknai kebahagiaan, identitas, dan kesuksesan dalam logika konsumsi.
4. Agama dalam Ruang Publik
Agama tidak lagi cukup dipahami sebagai ruang privat, tetapi harus hadir sebagai kekuatan moral publik yang mampu memberi arah dalam kehidupan sosial.
5. Konsep Post-Antroposen
Era post-antroposen menandai pergeseran dari pandangan manusia sebagai pusat kehidupan menuju kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari sistem ekologis yang saling terhubung.
6. Pendekatan Trans-Sosiologis
Kajian agama perlu melampaui batas disiplin ilmu dengan mengintegrasikan sosiologi, ekologi, ekonomi politik, dan etika dalam satu kerangka analisis yang lebih komprehensif.

Dalam penutup orasinya, Prof. Maksimus menegaskan bahwa agama harus dipahami sebagai sistem makna yang dinamis serta kekuatan moral yang mampu merespons ketidakpastian global dan krisis planet.

Orasi Ilmiah Prof. Sabina Ndiung: Transformasi Pembelajaran Matematika
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Prof. Sabina Ndiung memaparkan inovasi pembelajaran matematika berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang berorientasi pada pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Ia menekankan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu mengalami transformasi dari pendekatan konvensional menuju pendekatan yang lebih:
kontekstual berbasis pengalaman nyata
berorientasi pada pemecahan masalah
mendorong berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif

Menurutnya, pembelajaran matematika tidak boleh berhenti pada hafalan konsep atau rumus, tetapi harus mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

“Pembelajaran matematika harus menjadi ruang bagi siswa untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung,” demikian penegasan dalam orasi ilmiahnya.

Hasil Penelitian PjBL dan Dampaknya
Dalam paparannya, Prof. Sabina menyampaikan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan Project-Based Learning memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa sekolah dasar.

Hasil penelitian menunjukkan:
Rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa berada pada kategori tinggi (80,79) pada kelas eksperimen
Lebih tinggi dibandingkan kelas konvensional yang berada pada kategori sedang
Peningkatan signifikan pada aspek analisis, evaluasi, dan kreasi (HOTS)

Selain itu, pendekatan ini juga terbukti memperkuat:
kemampuan kolaborasi siswa
kemandirian belajar
keterampilan komunikasi
pemahaman konsep secara mendalam
Pendekatan Konstruktivistik dalam Pembelajaran

Prof. Sabina juga menegaskan pentingnya pendekatan konstruktivistik dalam pendidikan matematika, yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.

Pendekatan ini merujuk pada pemikiran:
Bruner melalui discovery learning
Piaget melalui konstruksi pengetahuan
Vygotsky melalui kolaborasi dan scaffolding
Dalam praktiknya, siswa diajak membangun pengetahuan melalui proyek-proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Rangkaian Acara Pengukuhan
Sidang Senat Terbuka pengukuhan Guru Besar berlangsung dengan susunan acara sebagai berikut:
Pembukaan Sidang Senat Terbuka
Pembacaan Keputusan Menteri
Penyampaian Orasi Ilmiah Prof. Maksimus Regus
Penyampaian Orasi Ilmiah Prof. Sabina Ndiung
Prosesi Pengukuhan Guru Besar
Sambutan pimpinan universitas dan tamu undangan
Penutupan dan ramah tamah akademik
Peneguhan Komitmen Akademik dan Peradaban

Pengukuhan dua Guru Besar ini menandai penguatan posisi Unika Santu Paulus Ruteng sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran kritis.

Melalui bidang Sosiologi Agama dan Pendidikan Matematika, universitas ini menegaskan komitmennya untuk menjawab tantangan global seperti krisis ekologis, transformasi pendidikan, ketimpangan sosial, serta perubahan nilai dalam masyarakat modern.

Dengan bertambahnya dua Guru Besar ini, Unika Santu Paulus Ruteng semakin memperkokoh perannya sebagai pusat intelektual yang berakar pada konteks lokal namun berorientasi pada kontribusi global bagi ilmu pengetahuan dan peradaban.(*/WG)

error: Konten dilindungi!