Pandangan Max Scheler Tanggapan Manusia terhadap Nilai Relevansinya Dengan Pudarnya Nilai Gotong Royong di Indonesia

Oleh: Damianus Bria

Pandangan Max Scheler tentang tanggapan manusia terhadap nilai memiliki implikasi yang mendalam dalam konteks membangun semangat gotong royong Scheler, seorang filsuf Jerman yang dikenal dengan kontribusinya dalam bidang filsafat nilai, memperjuangkan pentingnya nilai-nilai sebagai landasan moral dalam kehidupan manusia.

Dalam konteks gotong royong, nilai-nilai seperti kerjasama, saling menghargai, dan kepedulian menjadi kunci dalam membangun semangat kolaboratif di masyarakat.

Gotong royong merupakan konsep yang mendasari prinsip kerjasama dan kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam konteks sosial, semangat gotong royong menjadi fondasi yang kuat dalam membangun solidaritas dan kebersamaan di antara anggota masyarakat.

Dengan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai positif, manusia dapat memperkuat semangat gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan sosial hingga pembangunan masyarakat.

Max Scheler menekankan bahwa nilai-nilai bukan hanya sekadar konsep abstrak, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membentuk perilaku dan sikap manusia Manusia sebagai makhluk sosial secara alami cenderung merespons nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakatnya. Dengan demikian, pemahaman terhadap nilai-nilai moral seperti kejujuran, keadilan, dan empati dapat menjadi pendorong utama dalam membangun semangat gotong royong yang kuat.

Dasar pemikiran scheler nilai itu tidak tergantung pada pembawanya melainkan bersifat mutlak. Dalam konteks gotong royong kehidupan sehari-hari, tanggapan manusia terhadap nilai-nilai tersebut memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku individu (Achmadi, 2016).

Ketika individu mampu menginternalisasi nilai-nilai positif seperti kerjasama dan saling menghargai, mereka cenderung lebih terbuka untuk berkontribusi dalam upaya bersama demi kebaikan bersama. Semangat gotong royong yang tumbuh dari pemahaman nilai-nilai moral akan menciptakan lingkungan yang harmonis, solidaritas, dan saling mendukung di dalam masyarakat.

 

Dalam konteks globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang, semangat gotong royong menjadi semakin penting untuk dipertahankan dan diperkuat.

Nilai-nilai seperti kebersamaan, saling menghargai, dan kepedulian menjadi landasan yang kokoh dalam menghadapi tantangan-tantangan kompleks dalam masyarakat kontemporer.

Dengan memperkuat tanggapan manusia terhadap nilai-nilai tersebut, masyarakat dapat membangun fondasi yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, berdaya, dan berkelanjutan.

Max Scheler dalam pemikirannya mengenai tanggapan manusia terhadap nilai sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap hierarki nilai. Scheler memandang bahwa nilai-nilai memiliki tingkat hierarki yang berbeda-beda. Dan nilai itu bersifat mutlak dan tidak terpengaruh pada pembawanya.

Scheler juga mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk merasakan nilai-nilai secara langsung melalui apa yang ia sebut sebagai “intuisi nilai”  Intuisi nilai ini memungkinkan manusia untuk merasakan nilai-nilai yang ada di sekitarnya tanpa perlu melalui proses pemikiran rasional.

Hal ini memberikan bagi  manusia untuk menanggapi nilai .Secara keseluruhan, pemikiran Scheler tentang tanggapan manusia terhadap nilai memiliki dampak yang mendalam dalam berbagai disiplin ilmu, memperkaya pemahaman kita tentang nilai-nilai dalam kehidupan manusia.

Max Scheler (1874-1928) adalah seorang filsuf Jerman yang terkenal dengan karyanya di bidang fenomenologi, etika, dan sosiologi pengetahuan. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan fenomenologi, bersama dengan Edmund Husserl. Sheler Lahir di Munich, Jerman, pada tanggal 22 Agustus 1874.

Ia Belajar di berbagai universitas di Jerman, termasuk Munich, Berlin, Heidelberg, dan Jena. Mendapat gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Jena pada tahun 1902. Scheler Mengajar di berbagai universitas di Jerman, termasuk Jena, Munich, dan Cologne.

Karya-karyanya banyak membahas tentang etika, nilai, agama, dan sosiologi. Mengembangkan teori fenomenologi tentang nilai, yang menyatakan bahwa nilai adalah objek yang dapat diketahui secara langsung melalui intuisi.

Membedakan antara nilai-nilai objektif nilai-nilai yang ada secara independen dari manusia dan nilai-nilai subjektif nilai-nilai yang tergantung pada persepsi dan emosi manusia.

Pemikirannya tentang nilai dan etika sangat berpengaruh pada para filsuf selanjutnya, seperti Emmanuel Levinas, Martin Heidegger, dan Paul Ricoeur.

Karyanya juga memberikan kontribusi penting bagi perkembangan fenomenologi dan sosiologi pengetahuan. Dianggap sebagai salah satu filsuf Jerman paling penting pada abad ke-20. Scheler Meninggal di Frankfurt am Main, Jerman, pada tanggal 19 Mei 1928 

Tujuan pemikiran Max Scheler tentang tanggapan manusia terhadap nilai adalah untuk memahami bagaimana nilai-nilai mempengaruhi perilaku manusia dan bagaimana manusia merespons nilai-nilai tersebut.

Max Scheler nilai harus ditanggapi dengan perasaan karena pengetahuan kita tentang nilai itu relatif tapi nilai itu sendiri tidak relatif. Max Scheler ingin menyoroti bahwa nilai-nilai bukan hanya sesuatu yang abstrak atau teoritis, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Dengan memahami tanggapan manusia terhadap nilai, Scheler berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat dasar manusia dan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya.

Ia juga ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual memiliki keutamaan yang lebih tinggi daripada nilai-nilai material, sehingga manusia seharusnya lebih memprioritaskan nilai-nilai spiritual dalam hidupnya.

Selain itu, Scheler juga ingin menekankan pentingnya intuisi nilai dalam kehidupan manusia. Menurutnya, intuisi nilai memungkinkan manusia untuk merasakan nilai-nilai secara langsung, tanpa perlu melalui proses pemikiran rasional.

Hal ini menunjukkan bahwa tanggapan manusia terhadap nilai tidak selalu bersifat reflektif atau disadari, tetapi juga bisa bersifat lebih spontan dan intuitif.

Dengan demikian, tujuan utama pemikiran Max Scheler tentang tanggapan manusia terhadap nilai adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat nilai-nilai, bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku manusia, dan bagaimana manusia seharusnya merespons nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Dasar pemikiran Max Scheler tentang nilai yang tidak berubah dapat ditemukan dalam konsepnya tentang hierarki nilai. Scheler percaya bahwa ada nilai-nilai yang memiliki tingkat hierarki yang lebih tinggi daripada yang lain, dan nilai-nilai ini bersifat absolut atau tidak berubah.  Menurut Scheler, nilai-nilai yang bersifat absolut ini adalah nilai-nilai spiritual, seperti kebaikan, kejujuran, dan kasih sayang.

Nilai-nilai ini dianggap sebagai nilai-nilai yang paling tinggi dalam hierarki nilai, dan nilai-nilai lainnya, seperti uang atau kekuasaan, seharusnya ditempatkan di bawahnya.

Dengan demikian, dasar pemikiran Scheler tentang nilai yang tidak berubah terletak pada keyakinannya akan adanya nilai-nilai spiritual yang memiliki keabsolutan dan keuniversalan yang tidak tergantung pada situasi atau konteks individu. Konsep ini memberikan landasan bagi pandangannya bahwa nilai-nilai moral memiliki kebenaran objektif yang tetap dan tidak berubah.

Di Indonesia, gotong royong adalah nilai budaya yang kuat dan dijunjung tinggi. Maknanya mencakup saling membantu, bekerja sama, dan peduli terhadap kepentingan bersama dalam komunitas. Gotong royong terwujud dalam berbagai bentuk, seperti gotong royong dalam kegiatan pertanian, gotong royong dalam acara adat, atau gotong royong dalam kegiatan sosial masyarakat.

Penerapan nilai gotong royong di Indonesia dapat berperan penting dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi adalah bencana alam. Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api. Dalam situasi seperti ini, nilai gotong royong menjadi sangat relevan.

Masyarakat bersatu untuk memberikan bantuan, evakuasi, dan pemulihan pasca-bencana. Gotong royong memungkinkan masyarakat untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi kesulitan dan membangun kembali komunitas yang terdampak.

Selain itu, di Indonesia juga terdapat permasalahan sosial seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Nilai gotong royong dapat menjadi landasan untuk memerangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial. Dengan bergotong royong, masyarakat dapat berkolaborasi dalam mengembangkan program-program ekonomi inklusif, seperti koperasi atau kelompok usaha bersama.

Hal ini memungkinkan masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya, pelatihan, dan modal yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Namun, meskipun nilai gotong royong memiliki makna yang positif, tantangan juga muncul dalam penerapannya di Indonesia. Perubahan sosial dan perkotaan sering kali mengurangi rasa saling ketergantungan dan solidaritas dalam masyarakat. Individualisme dan orientasi kepentingan pribadi dapat mengurangi praktik gotong royong yang kuat. Selain itu, perbedaan sosial, budaya, dan ekonomi juga dapat menjadi hambatan dalam mencapai kesepahaman dan kerjasama yang lebih luas.

Untuk mengatasi permasalahan ini, penting untuk mempromosikan dan memperkuat nilai gotong royong melalui pendidikan dan kebijakan publik yang mendukung kolaborasi, kerjasama, dan kepedulian sosial. Pendidikan dapat memainkan peran penting dalam membangun kesadaran dan pemahaman akan nilai gotong royong sejak usia dini. Sedangkan kebijakan publik dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan gotong royong. 

Perkembangan globalisasi telah membawa pengaruh signifikan terhadap budaya gotong royong di Indonesia. Masyarakat Indonesia semakin terpengaruh oleh budaya kebarat-baratan yang menggeser nilai-nilai gotong royong yang telah dipupuk oleh para pahlawan kita. Globalisasi juga telah meningkatkan individualisme, sehingga masyarakat Indonesia semakin tidak peduli dengan kepentingan bersama dan semakin fokus pada kepentingan pribadi.

Perubahan Sosial dan Ekonomi. Perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di Indonesia, seperti transisi dari ekonomi agraris ke ekonomi yang lebih modern, telah mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakat. Masyarakat Indonesia semakin fokus pada kepentingan pribadi dan semakin lupa dengan kepentingan bersama, sehingga gotong royong menjadi sesuatu yang jarang ditemukan. 

Teknologi.Penggunaan teknologi yang semakin canggih telah mengubah cara masyarakat Indonesia berinteraksi dan berkomunikasi. Mereka lebih suka berinteraksi melalui media sosial dan teknologi daripada melakukan kegiatan gotong royong secara langsung.

Kehilangan Nilai-Nilai Gotong Royong: Pudarnya gotong royong telah menghilangkan nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan rela berkorban yang terkandung dalam budaya gotong royong. Masyarakat Indonesia semakin individualistis dan semakin tidak peduli dengan kepentingan bersama.

Kehilangan Budaya Indonesia: Pudarnya gotong royong juga berarti kehilangan budaya Indonesia yang telah dipupuk oleh para pahlawan kita. Budaya gotong royong telah menjadi salah satu ciri khas Indonesia yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

  1. Edukasi dan Kampanye Sosialisasi. edukasi dan kampanye sosialisasi membuat program yang menarik dan bermanfaat untuk masyarakat, serta melibatkan masyarakat secara aktif dalam membentuk kelompok untuk tujuan tertentu
  2. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat: Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program pemerintahan yang berkaitan dengan lingkungan, seperti pengelolaan sampah dan pengendalian banjir. Meningkatkan kegiatan-kegiatan sosial guna mempererat hubungan antar warga.
  3. Mengembangkan Kembali Nilai-Nilai Gotong Royong: Mengembangkan kembali nilai-nilai gotong royong melalui kegiatan-kegiatan yang menarik dan bermanfaat, seperti kerja bakti dan patroli malam. Meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa gotong royong adalah bagian dari budaya Indonesia yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.Dengan demikian, untuk menghadapi pudarnya nilai gotong royong di Indonesia, diperlukan upaya-upaya yang konsisten dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengembangkan kembali nilai-nilai gotong royong yang terkandung dalam budaya Indonesia.

Tema tanggapan manusia terhadap nilai dari pemikiran Max Scheler dapat dihubungkan dengan isu pudarnya nilai gotong royong dalam masyarakat. Scheler, seorang filsuf yang menekankan hierarki nilai, scheler berpendapat bahwa nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung  pada pembawanya melainkan kualitas apriori yang artinya telah dirasakan manusia tampa melalui pengelaman inrawi terlebih dahulu. Nilai tampil melalui suatu benda tetapi nilai sendiri tidak identik dengan benda tersebut. Oleh karena itu meskipun benda sebagai pembawa nilai itu pudar dan hilang, tetapi nilai itu tetap ada karena nilai itu bersifat mutlak. 

Nilai-nilai yang diinternalisasi dapat menjadi pedoman dalam memilih tindakan yang tepat dan menghindari perilaku yang melanggar etika. Tanggapan manusia terhadap nilai-nilai Scheler dapat membantu dalam membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasi moral dari keputusan yang diambil dalam berbagai domain kehidupan, termasuk bisnis, politik, dan hubungan sosial.

Secara keseluruhan, pemikiran Max Scheler tentang tanggapan manusia terhadap nilai memiliki relevansi yang kuat dalam konteks etika, penghargaan terhadap keragaman, dan pengambilan keputusan. Memahami konsep ini dapat membantu kita mengembangkan kesadaran moral yang lebih baik untuk kebutuhan dan kebaikan bersama, mempromosikan inklusivitas dalam interaksi sosial, dan menjadikan nilai-nilai sebagai landasan dalam menghadapi tantangan etis dalam kehidupan sehari-hari.

 

error: Konten dilindungi!